Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Kepri 2025 Tumbuh 6,94 Persen, Tertinggi di Sumatera dan Didukung Sektor Industri serta Investasi
Oleh : Aldy
Sabtu | 07-02-2026 | 12:08 WIB
IV-2025.jpg Honda-Batam
Ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,89 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,48 persen (yoy). (BPS Kepri)

BATAMTODAY.COM, Batam - Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan kinerja impresif sepanjang 2025. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,89 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,48 persen (yoy). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Kepri sepanjang 2025 mencapai 6,94 persen (cumulative to cumulative/ctc), tertinggi di wilayah Sumatera.

Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera yang tercatat 4,54 persen (yoy) pada triwulan IV 2025 dan 4,81 persen (ctc) sepanjang 2025. Kinerja ekonomi Kepri terutama ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan yang masing-masing tumbuh 7,52 persen, 16,01 persen, 5,30 persen, dan 7,55 persen (ctc).

Pertumbuhan sektor pertambangan meningkat signifikan seiring mulai beroperasinya sejumlah lapangan migas sejak Mei 2025. Sementara sektor konstruksi didorong pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI). Adapun sektor perdagangan tumbuh positif sejalan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sepanjang 2025.

Dari sisi keuangan, intermediasi perbankan di Kepri juga menunjukkan tren positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2025 tumbuh 13,22 persen (yoy), sedangkan penyaluran kredit meningkat 25,92 persen (yoy). Pembiayaan korporasi dan UMKM masing-masing tercatat tumbuh 37 persen dan 13,21 persen (yoy), menandakan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri ditopang Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,81 persen (ctc) dengan kontribusi 2,81 persen. Peningkatan investasi didorong kemudahan perizinan melalui PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 3,84 persen (ctc), sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada level optimistis sebesar 122,29. Selain itu, net ekspor tumbuh 20,52 persen (ctc) berkat permintaan kuat terhadap komoditas unggulan Kepri.

Bank Indonesia menilai digitalisasi turut mendorong aktivitas ekonomi daerah. Hingga Desember 2025, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi atau tumbuh 192,69 persen (yoy) dengan nominal Rp11,54 triliun atau meningkat 129,60 persen (yoy).

"Digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS menjadi katalisator perputaran ekonomi daerah, termasuk transaksi lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura yang terus meningkat," demikian keterangan Bank Indonesia, Jumat (6/2/2026).

Di tengah pertumbuhan tinggi, inflasi Kepri tetap terkendali. Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang 2025 mencatat inflasi 3,47 persen (yoy), masih berada dalam target 2,5+/-1 persen. Inflasi terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, dan daging ayam.

Ke depan, perekonomian Kepri diproyeksikan tetap tumbuh positif. Prospek tersebut didukung pengembangan KEK, KI, dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta kepastian iklim investasi. Sementara stabilitas inflasi akan dijaga melalui sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Editor: Gokli