Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Jepang Bahas Proyek Energi Bersih dalam AZEC-EGM ke-9, Fokus Debottlenecking dan Percepatan Investasi
Oleh : Redaksi
Kamis | 05-02-2026 | 13:08 WIB
RI-Jepang6.jpg Honda-Batam
Indonesia-Jepang kembali menggelar Asia Zero Emission Community-Expert Group Meeting ke-9 (AZEC-EGM) pada Senin (26/1/2026). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Jepang kembali menggelar Asia Zero Emission Community-Expert Group Meeting ke-9 (AZEC-EGM) pada Senin (26/1/2026) guna mempercepat implementasi proyek dekarbonisasi dan mengurai hambatan teknis maupun bisnis dalam berbagai inisiatif energi bersih di kawasan Asia. Forum AZEC sendiri merupakan wadah kerja sama menuju target emisi nol bersih yang diluncurkan pada sela KTT Presidensi G20 Indonesia 2022.

Pertemuan terbagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama membahas sektor ketenagalistrikan, meliputi ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dan Hululais, proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka. Sesi kedua mengulas sektor bahan bakar berkelanjutan, termasuk inisiatif amonia hijau di Aceh dan usulan template studi bersama untuk perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA).

Sejumlah proyek menunjukkan perkembangan signifikan. PLTSa Legok Nangka dengan nilai investasi sekitar USD400 juta diperkirakan mencapai tahap kesepakatan pendanaan pada akhir 2026 setelah melalui proses koordinasi teknis, pembiayaan, dan pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, proyek PLTP Hululais telah mencapai kemajuan melalui kesepakatan pinjaman dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), sehingga tahapan pengadaan diharapkan segera berjalan.

Proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera menjadi bahasan strategis dalam forum tersebut. Kedua negara sepakat mempercepat finalisasi survei teknis dan bisnis karena proyek ini dinilai penting untuk menghubungkan potensi energi terbarukan di Sumatera dengan kebutuhan energi tinggi di Pulau Jawa.

Pada sesi kedua, pertemuan juga membahas perkembangan Green Ammonia Initiative di Aceh sebagai upaya memperkuat rantai pasok amonia nasional sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi global. Selain itu, usulan Indonesia terkait riset bersama pengembangan template PPA geothermal mendapat respons positif. Inisiatif tersebut diharapkan mampu meningkatkan standardisasi, kepastian usaha, mitigasi risiko, serta mempercepat negosiasi antara pengembang pembangkit listrik dan PT PLN (Persero), dengan merujuk pada keberhasilan debottlenecking proyek PLTP Muara Laboh pada 2025.

Deputy Commissioner for International Affairs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ueno Asako, menyampaikan harapannya agar enam proyek prioritas AZEC menunjukkan kemajuan nyata dalam waktu dekat, terutama sebelum berakhirnya tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.

Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia, Raden Pardede, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat koordinasi lintas sektor. "Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah dan akan berkoordinasi lebih detail dengan kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian ESDM, PT PLN, dan pemerintah daerah setempat," ujar Raden.

Pertemuan turut dihadiri perwakilan Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan melalui Atase Keuangan KBRI Tokyo, KBRI Tokyo, serta lembaga internasional seperti JICA dan JBIC. Dari sektor korporasi hadir PT PLN, PT Pupuk Indonesia, serta sejumlah perusahaan Jepang, antara lain Itochu Corporation, Kansai Electric, Sumitomo Corporation, dan Toyo Engineering.

Editor: Gokli