Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemendagri Sayangkan Banyak Biro Humas Pemda Tak Bisa Rangkul Wartawan
Oleh : si
Selasa | 11-12-2012 | 17:39 WIB
Donny.jpg Honda-Batam

Kapuspen Kemendagri Raydonnyzar Moenek

JAKARTA, batamtoday - Juru Bicara kementerian/lembaga atau kepala biro humas di pemerintahan daerah (Pemda) disayangkan tidak memiliki kemampuan untuk merangkul para wartawan, padahal pers adalah mitra untuk menyampaikan informasi ke publik sehingga mendapat pencerahan.



Akibat kelemahan para juru bicara atau kepala biro humas itu, maka informasi yang disajikan kebanyakan berisi tentang kejelekan pemerintah pusat maupun daerah karena wartawan tidak mendapatkan informasi akurat akibat para juru bicara atau kepala biro humas menutup diri kepada pers.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Raydonnyzar Moenek di sela-sela Rapat Koordinasi Forum Koordinasi Kehumasan di Jakarta, kemarin mengatakan, para juru bicara atau kepala biro humas harus siap mental, siap data dan informasi dalam menghadapi media yang lapar informasi. Selain itu mereka mau tidak mau harus siap setiap saat, saat media membutuhkan.

"Akhirnya kegiatan kita seperti kerja awak media. Saya jam 11 malam saja masih ditelpon, dan pagi-pagi sudah di stasiun TV swasta, demi memberikan informasi kepada publik, agar tidak bias publik menerimanya. Mau tidak mau kita siap segalanya, fisik, mental, data dan informasi, melayani media yang 'lapar' berita," kata Kapuspen-Juru Bicara Kemendagri Reydonnyzar Moenek.

Menurut dia, sangat disayangkan bila juru bicara atau kepala biro humas malah sulit dihubungi. Dikhawatirkan akhirnya pers akan mengambil sumber lain yang mungkin berseberangan dengan suatu Kementerian-Lembaga atau pemerintah daerah, sehingga berita yang muncul tidak imbang lagi.

"Sudah beritanya itu tidak imbang, lalu ditulis di dalam berita bahwa Juru Bicara sulit dihubungi dan ponselnya mati. Wah kasihan sekali kementeriannya atau pemerintah daerah. Intinya mereka belum bisa merangkul wartawan dan takut menghadapi media, padahal media adalah sahabat kita dalam menyampaikan informasi ke masyarakat," kata pria yang akrab dipanggil Donny tersebut.

Namun demikian Donny juga meminta agar para jubir, tidak asal berani dan asal cepat dalam memberikan jawaban atas pertanyaan wartawan. Hal ini karena sudah banyak pengamat dan akademisi yang mempunyai spesialisasi khusus atas suatu masalah atau kasus.

"Kelemahan selama ini karena tidak memiliki data lengkap terhadap suatu peristiwa sehingga ketika ditanya wartawan lari dan menutup telepon. Harusnya mereka membaca dan terus membaca, belajar dan terus belajar, kuasai benar-benar regulasi dan hal-hal yang substantif di kementerian-lembaganya atau pemerintah daerahnya. Juga tetap ramah sebagai mitra pers. Itu adalah kunci suksesnya," katanya.