Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

IKI Januari 2026 Cetak Rekor Tertinggi, Sektor Manufaktur Awali Tahun dengan Tren Positif
Oleh : Redaksi
Sabtu | 31-01-2026 | 15:28 WIB
IKI-Jan-26.jpg Honda-Batam
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kinerja industri pengolahan nasional mengawali tahun 2026 dengan sinyal penguatan yang signifikan. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 tercatat mencapai 54,12, naik 2,22 poin dibandingkan Desember 2025 dan menjadi level tertinggi sejak IKI pertama kali diluncurkan pada November 2022.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun. "Nilai IKI Januari 2026 ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan dunia usaha terhadap kinerja industri nasional," ujar Febri dalam rilis IKI Januari 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Dari sisi makroekonomi, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20-21 Januari 2026 dinilai memberikan kepastian dan stabilitas bagi pelaku usaha. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta konsistensi sasaran inflasi 2026-2027 sebesar 2,5 persen +/-1 persen.

Sementara itu, inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan dan 0,64 persen secara bulanan, yang dipengaruhi oleh faktor musiman akhir tahun serta gangguan pasokan.

Pada sektor riil, aktivitas manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global pada Desember 2025 berada di level 51,2, menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut meskipun sedikit melambat. Sejalan dengan itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) Triwulan IV 2025 meningkat menjadi 51,86 persen dan diproyeksikan terus menguat pada Triwulan I 2026.

Febri menjelaskan, struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan yang relatif merata. Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi, sementara tiga subsektor masih mengalami kontraksi. Sub-sektor yang berada di zona ekspansi tersebut berkontribusi sekitar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

"Kami melihat peningkatan IKI didorong oleh intensifikasi kegiatan produksi untuk merespons kenaikan permintaan menjelang Ramadan, Hari Raya Idulfitri, dan hari besar keagamaan lainnya," jelasnya.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semi Trailer serta Industri Mesin dan Perlengkapan. Menurut Febri, penguatan pada subsektor ini juga dipengaruhi respons positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan, meskipun pembahasan kebijakan tersebut masih berproses.

Adapun subsektor yang masih mengalami kontraksi meliputi Industri Kulit dan Alas Kaki, Industri Kayu dan Barang dari Kayu, serta Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik. Kondisi ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan ekspor, faktor musiman, serta dinamika geopolitik global.

Berdasarkan komponen penyusunnya, seluruh variabel IKI Januari 2026 berada di zona ekspansi. Indeks pesanan tercatat sebesar 55,27, naik 2,51 poin, sementara indeks produksi melonjak ke 54,86 atau meningkat 6,45 poin setelah tujuh bulan berturut-turut berada di zona kontraksi. Indeks persediaan berada di level 50,14, meskipun sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

"Kembalinya variabel produksi ke zona ekspansi menunjukkan industri tengah meningkatkan output untuk memenuhi lonjakan permintaan pada Februari dan Maret 2026," ungkap Febri.

Survei IKI juga mencatat kondisi usaha secara umum masih solid. Sebanyak 78,5 persen responden menyatakan kegiatan usaha berada dalam kondisi baik dan stabil. Tingkat optimisme pelaku industri meningkat menjadi 72,5 persen, sementara pesimisme menurun menjadi 4,5 persen.

Untuk IKI berorientasi ekspor, nilainya tercatat 54,62, naik 2,26 poin dibandingkan Desember 2025. IKI berorientasi pasar domestik juga tetap berada di zona ekspansi, menandakan permintaan dalam negeri masih menjadi penopang utama industri di tengah tantangan global.

Febri menambahkan, penguatan IKI turut didorong oleh meningkatnya realisasi investasi industri pengolahan. Pada Triwulan IV 2025, investasi sektor ini mencapai Rp218,2 triliun atau berkontribusi 43,9 persen terhadap total investasi nasional. Kenaikan impor barang modal sebesar 17,27 persen secara tahunan pada November 2025 juga mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas dan peremajaan mesin.

Ke depan, Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat kebijakan strategis guna menjaga momentum ekspansi industri nasional, termasuk melalui penguatan pasar domestik, peningkatan daya saing ekspor, pendalaman struktur industri, serta percepatan transformasi industri hijau dan digital.

"Capaian IKI Januari 2026 menjadi modal awal yang kuat bagi industri nasional untuk tumbuh secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026," pungkasnya.

Editor: Gokli