Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Ajukan 12 Inovasi Pelayanan Publik ke Guangzhou Award 2026
Oleh : Redaksi
Sabtu | 31-01-2026 | 12:28 WIB
Otok-Kuswandaru.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian PANRB, Otok Kuswandaru, dalam Kick Off Meeting Fasilitasi Pendampingan Peserta Guangzhou Award 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (29/1/2026).(Foto: KemenPANRB)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Inovasi pelayanan publik Pemerintah Indonesia kembali tampil di panggung internasional. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menyiapkan 12 inovasi pelayanan publik untuk mengikuti ajang Guangzhou Award Tahun 2026, sebuah penghargaan bergengsi tingkat dunia di bidang inovasi perkotaan dan pemerintahan daerah.

Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian PANRB, Otok Kuswandaru, mengatakan partisipasi Indonesia dalam kompetisi internasional tersebut merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mendorong transformasi pelayanan publik melalui berbagai terobosan yang dihasilkan instansi pemerintah.

"Keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini menunjukkan bahwa pelayanan publik nasional telah menghadirkan berbagai inovasi yang layak mendapatkan apresiasi tingkat dunia, sekaligus mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujar Otok dalam Kick Off Meeting Fasilitasi Pendampingan Peserta Guangzhou Award 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (29/1/2026).

Otok menjelaskan, 12 inovasi yang diajukan merupakan inovasi terbaik yang sebelumnya meraih penghargaan Outstanding Public Service Innovation (OPSI) pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2025. Inovasi tersebut antara lain PUSPA HUNTING, Kartu Digital Sungai Rumbai Sehat, Serving The Villager, PEDULI KASI, IBUK ANTING, PANDORA Kabupaten Kebumen, KPBU APJ, Hari Belanja Cantik ke Pasar Tradisional dan UMKM, SUPERMIE, PINTERES, GOKER WANGI, serta Baca Meter Mandiri.

Menurut Otok, fasilitasi yang dilakukan Kementerian PANRB tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga penguatan berkelanjutan terhadap inovasi pelayanan publik daerah yang telah menjadi praktik baik di tingkat nasional. "Fasilitasi ini juga menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan capaian inovasi pelayanan publik Indonesia di tingkat internasional serta mendukung kontribusi Indonesia terhadap agenda pembangunan global, termasuk Sustainable Development Goals (SDGs) dan New Urban Agenda (NUA)," jelasnya.

Sebagai informasi, 7th Guangzhou International Award for Urban Innovation merupakan penghargaan internasional yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Governments (UCLG) dan World Association of the Major Metropolises (Metropolis). Ajang ini bertujuan mengidentifikasi, mengakui, dan mempromosikan inovasi yang terbukti memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta penguatan tata kelola pemerintahan daerah dan perkotaan.

Otok berharap keikutsertaan Indonesia dalam Guangzhou Award 2026 dapat mendorong para inovator pelayanan publik untuk bersaing secara global sekaligus memperluas perspektif dalam pengembangan inovasi. "Kita harus membuktikan bahwa inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab persoalan publik dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Director of KMMB Consulting, Mochamad Badowi, memaparkan pentingnya strategi branding global dan peningkatan kualitas proposal inovasi pelayanan publik. Ia menjelaskan terdapat enam pilar inovasi dalam kerangka standar global, yakni kebijakan baru, strategi baru, tata kelola baru, teknologi tepat guna, kemitraan baru, serta model bisnis baru.

"Kebijakan yang baik harus berbasis data dan penelitian yang valid. Tanpa strategi dan tata kelola yang tepat, kebijakan hanya berhenti di atas kertas dan tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," kata Badowi.

Badowi menambahkan, dalam konteks global, inovasi harus menunjukkan dampak sosial yang nyata serta mampu diposisikan sebagai model percontohan yang dapat direplikasi di berbagai negara. "Inovasi daerah harus berpikir global, meskipun dipraktikkan di tingkat lokal. Artinya, inovasi yang lahir di daerah bisa menjadi contoh bagi dunia," ujarnya.

Sementara itu, Innovation Practitioner Budi Chairuddin menyampaikan bahwa penilaian Guangzhou Award mencakup empat kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, efektivitas, keberlanjutan kebijakan, dan signifikansi dampak terhadap isu publik.

Ia menekankan pentingnya penulisan proposal yang menonjolkan unsur kebaruan, capaian yang solutif, manfaat nyata bagi masyarakat, potensi replikasi, serta keberlanjutan inovasi. "Proposal harus mampu menunjukkan bahwa inovasi tersebut menyelesaikan masalah publik, dapat diadaptasi, dan berkelanjutan dalam jangka panjang," tutup Budi.

Editor: Gokli