Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pemerintah Dorong Gig Economy dan AI Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi, Gen Z Disiapkan sebagai Penggerak Utama
Oleh : Redaksi
Sabtu | 17-01-2026 | 13:08 WIB
Gig-Economy1.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, , saat membuka Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (15/1/2026). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Sleman - Pemerintah menegaskan sektor ekonomi digital, khususnya berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional ke depan

Perkembangan industri kreatif digital dinilai telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menyampaikan bahwa transformasi digital saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang membentuk cara kerja dan pola interaksi dalam ekosistem ekonomi modern.

"Digital merupakan sektor pertumbuhan yang bisa kita dorong bersama. Pemerintah telah merancang tiga sumber pertumbuhan baru yang terbukti mampu melampaui pola pertumbuhan konvensional. Sektor digital, khususnya AI, berpotensi menyumbang hingga 20 persen bagi kemajuan perekonomian," ujar Ali saat membuka Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (15/1/2026).

Ali menjelaskan, kemajuan teknologi digital dan AI telah melahirkan inovasi, model bisnis, serta ekosistem ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk menjadi motor penggerak New Economy Engine Indonesia.

Saat ini, Indonesia tengah menikmati bonus demografi dengan jumlah Gen Z mencapai lebih dari 74 juta jiwa. Namun demikian, tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan lapangan kerja formal, ketidaksesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri, hingga pesatnya perubahan teknologi yang menuntut keterampilan baru.

Menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah merumuskan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025 yang mengakselerasi empat program strategis hingga 2026, termasuk lima program penyerapan tenaga kerja. Salah satu program unggulan adalah penguatan ekosistem gig economy yang menyasar Gen Z.

"Model kerja gig ini semakin modern dan virtual. Targetnya akan diterapkan di 15 kota dengan sekitar 3.000 peserta setiap bulan, sementara dalam satu termin pelatihan bisa diikuti sekitar 300 peserta," jelas Ali.

Sebagai tahap awal, pilot project penguatan ekosistem gig economy telah dilaksanakan di DKI Jakarta pada 18 Desember 2025, bersamaan dengan soft launching AI Open Innovation Challenge yang dijadwalkan resmi diluncurkan pada pertengahan Februari 2026.

Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Provinsi DIY berlangsung selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 Januari 2025. Kegiatan diawali dengan talkshow bertajuk “Gig Economy untuk Gen Z: Peluang dan Tantangan”, dilanjutkan dengan sesi pelatihan teknis. Pada kesempatan tersebut, Deputi Ali juga meninjau langsung kelas pelatihan dan berdialog dengan para peserta.

Menurut Ali, pemanfaatan AI justru tidak menghilangkan kebutuhan tenaga kerja, melainkan membuka peluang baru berbasis pengolahan data dan kreativitas manusia. "AI membutuhkan struktur data yang dikerjakan oleh manusia. Dari sanalah solusi AI dihasilkan. Ke depan, AI Open Challenge Competition akan digelar di berbagai kota untuk menjaring ide dan talenta anak muda sebagai idea pool dan talent pool nasional," katanya.

Kegiatan talkshow tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Deputi EGM Digital Product PT Telkom Indonesia Fauzan Faesal, CEO Teleperformance Indonesia Michael Wullur, Sekretaris Jenderal Asosiasi Digital Kreatif (Aditif) Moh. Ibnu Abdisalam, Direktur PT Nose Herbal Indo Aling, serta dimoderatori oleh Dosen Senior Universitas Amikom Yogyakarta, Melwin Syafrizal.

Editor: Gokli