Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global, Risiko Resesi Rendah
Oleh : Redaksi
Kamis | 15-01-2026 | 14:28 WIB
menko-air.jpg Honda-Batam
Menko Airlangga Hartarto, usai menyampaikan keynote speech pada forum IBC Business Outlook 2026 yang digelar Indonesian Business Council (IBC), Rabu (14/1/2026). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah terus memperkuat arah kebijakan perekonomian nasional guna menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang sarat ketidakpastian.

Tekanan eksternal seperti fragmentasi perdagangan dunia, perlambatan ekonomi global, dan meningkatnya tensi geopolitik menuntut kebijakan yang adaptif, konsisten, serta berorientasi jangka menengah dan panjang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap berada dalam kondisi resilien dengan tingkat risiko resesi yang relatif rendah dibandingkan sejumlah negara besar.

"Di tengah ketidakpastian global akibat perlambatan ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap tangguh. Berdasarkan penilaian Bloomberg, risiko resesi Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang," ujar Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech pada forum IBC Business Outlook 2026 yang digelar Indonesian Business Council (IBC), Rabu (14/1/2026).

Dalam paparannya, Airlangga menyampaikan bahwa selama tujuh tahun terakhir Indonesia secara konsisten mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, dengan akumulasi pertumbuhan mencapai sekitar 35 persen. Stabilitas makroekonomi juga terjaga, tercermin dari inflasi Desember 2025 yang berada di level 2,92 persen.

Kinerja pasar keuangan menunjukkan tren positif, ditandai dengan indeks saham yang terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif. Kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sebesar 51,2 dan indeks kepercayaan konsumen yang meningkat ke level 123,5. Dari sisi eksternal, posisi Indonesia dinilai solid berkat surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang mencapai USD 156,1 miliar.

Dari aspek pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8 persen, sementara realisasi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) menunjukkan tren peningkatan. Menurut Airlangga, hal ini mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia serta prospek pertumbuhan jangka panjang.

Airlangga juga menegaskan bahwa APBN tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3 persen, dengan rasio utang yang tetap terkendali. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 senilai Rp 110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen, yang ditopang oleh penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta delapan program prioritas nasional. Fokus diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahun.

APBN juga diarahkan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan, perlindungan sosial, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan produktivitas, mulai dari program magang bagi lulusan baru, pelatihan tenaga kerja, hingga fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri pada sektor-sektor strategis.

Di tengah percepatan transformasi digital, Indonesia turut mendorong penguatan ekonomi digital kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement. Pemerintah juga memperluas penggunaan sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional untuk memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital masyarakat.

Selain itu, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan pelaksanaan program strategis nasional. Sejumlah sektor padat karya seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor menjadi perhatian utama guna menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja nasional di tengah dinamika perdagangan global.

Menutup paparannya, Airlangga mengajak para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk tetap optimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia. "Menghadapi periode ke depan, kita harus tetap optimistis. Akan ada banyak kabar baik. Saya yakin berbagai lembaga global, termasuk IMF, juga optimistis terhadap perekonomian Indonesia," pungkas Airlangga Hartarto.

Forum tersebut turut dihadiri Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, CEO Indonesian Business Council Sofyan A Djalil, Chairman IBC Board of Trustee Arsjad Rasjid, anggota Expert Panel IBC Agus Martowardjojo, Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede, serta perwakilan kedutaan besar negara sahabat.

Editor: Gokli