Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal sebagai Kawasan Damai di Tengah Ketidakpastian Global
Oleh : Redaksi
Kamis | 15-01-2026 | 13:08 WIB
PPTM-2026.jpg Honda-Batam
Menlu Sugiono, dalam PPTM 2026 yang digelar di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026). (Tangkapan layar Youtube)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menyerukan agar ASEAN kembali pada tujuan awal pembentukannya, yakni menjaga Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, bebas dari unjuk kekuatan, serta berorientasi pada kesejahteraan rakyat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 yang digelar di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026). "ASEAN dibentuk untuk memastikan perbedaan dikelola melalui dialog dan kerja sama, bukan melalui tekanan atau konfrontasi," ujar Sugiono.

Menurut Menlu RI, relevansi ASEAN saat ini semakin krusial sebagai jangkar stabilitas kawasan dan platform utama untuk memastikan Asia Tenggara tetap menjadi ruang damai, serta tidak berubah menjadi arena unjuk kekuatan di tengah rivalitas global yang kian tajam.

Sugiono menegaskan bahwa kekuatan ASEAN hanya dapat terjaga apabila persatuan dan sentralitas ASEAN terus diperkuat dan diperjuangkan bersama. Persatuan dinilai penting untuk mencegah fragmentasi di antara negara anggota, sementara sentralitas memastikan ASEAN tetap memimpin arsitektur kawasan dan tidak terseret dalam persaingan kekuatan besar.

Dalam kesempatan tersebut, Sugiono mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menegaskan pentingnya solidaritas kawasan. "Dalam situasi ketidakpastian geopolitik saat ini, semakin kuat ASEAN, maka suara kita akan semakin didengar," ujar Sugiono mengutip Presiden Prabowo.

Menlu RI juga menyoroti berbagai dinamika yang terjadi di ASEAN sepanjang tahun lalu, termasuk krisis di antara negara-negara anggota. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian di Asia Tenggara tidak boleh diabaikan dan harus terus dirawat melalui penahanan diri, penghormatan terhadap kedaulatan, serta komitmen pada penyelesaian damai atas setiap perbedaan.

Pada momentum 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) tahun ini, Indonesia menyampaikan keprihatinan atas melemahnya penerapan prinsip-prinsip TAC, justru ketika kawasan membutuhkan penguatan norma dan kepatuhan terhadap aturan main. Sugiono menegaskan bahwa TAC merupakan fondasi perilaku antarnegara di Asia Tenggara yang perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan membangun kepercayaan strategis.

Indonesia juga mengakui bahwa di luar kawasan, pendekatan hard power semakin menguat. Namun, Menlu RI menegaskan bahwa Asia Tenggara memiliki aturan main yang harus dihormati oleh seluruh pihak, termasuk prinsip non-intervensi, penyelesaian sengketa secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial, serta penguatan sentralitas ASEAN.

Sebagai penutup, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia untuk terus bersinergi dengan Keketuaan Filipina dalam menjaga kesinambungan agenda kawasan. Kerja sama tersebut mencakup berbagai inisiatif strategis, termasuk percepatan penyelesaian Code of Conduct di Laut China Selatan yang sejalan dengan ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Editor: Gokli