Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pandora Pekerja di Lumbung Investasi Triliunan Rupiah, Puluhan Ribu Warga Masih Mengantre Kerja
Oleh : Aldy
Senin | 12-01-2026 | 14:48 WIB
loker-antre.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Citra Batam sebagai etalase investasi nasional terus diperkuat. Kawasan industri tumbuh, pabrik bermunculan, pusat data berkembang, dan nilai investasi triliunan Rupiah tercatat impresif dalam laporan resmi. Namun, di balik geliat tersebut, persoalan klasik kembali mencuat ke ruang publik: tingginya angka pengangguran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepri pada 2025 berada pada kisaran 6,45 hingga 6,89 persen. Kota Batam menjadi penyumbang terbesar, sekaligus menempatkan Kepulauan Riau sebagai salah satu provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah lonjakan investasi yang signifikan. Hingga triwulan III-2025, realisasi investasi di Batam mencapai Rp 54,7 triliun atau sekitar 91 persen dari target tahunan, tumbuh lebih dari 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Batam juga tetap solid. Pada triwulan II-2025, ekonomi daerah ini tumbuh 6,66 persen dan menyumbang lebih dari dua pertiga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kepulauan Riau.

Batam pun kokoh sebagai lokomotif ekonomi Kepri. Namun, deret angka positif tersebut menyimpan paradoks yang sulit diabaikan. Arus investasi bergerak cepat, sementara penciptaan lapangan kerja belum mampu mengikuti lajunya.

Tercatat lebih dari 50 ribu warga Batam masih belum terserap ke dunia kerja. Mayoritas pengangguran berasal dari lulusan SMA dan SMK, kelompok usia produktif yang semestinya menjadi tulang punggung sektor industri.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya, mengakui bahwa persoalan ketenagakerjaan di Batam kini semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan masuknya investasi.

"Batam memang sedang mengalami pertumbuhan pesat. Investasi triliunan Rupiah masuk dan pabrik terus berdiri. Namun, karakter investasinya juga berubah," kata Diky Wijaya saat dihubungi, Senin (12/1/2026).

Menurut Diky, Batam saat ini banyak menerima investasi padat modal dan berteknologi tinggi, seperti pusat data dan industri berbasis digital. Nilai investasinya besar, tetapi kebutuhan tenaga kerjanya relatif terbatas serta mensyaratkan keahlian khusus. Akibatnya, serapan tenaga kerja tidak sebanding dengan derasnya arus modal yang masuk.

Di sisi lain, arus pencari kerja ke Batam terus meningkat. Pertumbuhan angkatan kerja berlangsung cepat, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai belum mampu mengimbanginya. Persoalan perizinan yang masih berbelit juga turut berdampak, karena keterlambatan operasional investasi berimbas pada tertundanya penyerapan tenaga kerja.

"Tantangan ke depan bukan lagi sekadar menarik investasi, tetapi memastikan investasi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi tenaga kerja lokal," ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Disnakertrans Kepri menyiapkan strategi melalui penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja. Pada 2026, pemerintah daerah telah menyusun sejumlah program pelatihan dengan fokus peningkatan kompetensi lulusan SMA dan SMK agar selaras dengan kebutuhan industri.

Bidang pelatihan yang diprioritaskan meliputi manufaktur modern, teknologi informasi, digitalisasi industri, serta sektor pendukung industri yang masih memerlukan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pemerintah juga mendorong pengembangan sektor padat karya modern sebagai penyeimbang masuknya investasi berteknologi tinggi.

Batam sejatinya memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Namun, tanpa kebijakan ketenagakerjaan yang terarah dan adaptif, paradoks ini berpotensi terus berulang: triliunan rupiah investasi mengalir deras, sementara ribuan warga masih harus mengantre untuk mendapatkan pekerjaan. Di kota yang dijuluki lumbung investasi tersebut, lapangan kerja justru menjadi komoditas langka.

Editor: Gokli