Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis, Nilai Proyek Capai Rp 36,4 Triliun
Oleh : Redaksi
Senin | 12-01-2026 | 11:48 WIB
1201_menko-airlangga-2026.jpg Honda-Batam
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memperdalam hubungan bilateral dengan negara-negara mitra strategis sebagai bagian dari upaya menjaga kepentingan nasional dan mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang.

Salah satu kemitraan yang dinilai paling komprehensif dan berkelanjutan adalah kerja sama Indonesia dengan Tiongkok, yang mencakup sektor perdagangan, investasi, hingga industri.

Penguatan hubungan Indonesia–Tiongkok juga melibatkan peran aktif berbagai pemangku kepentingan, termasuk China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI). Selama lebih dari 20 tahun, CCCI berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan dunia usaha, sekaligus mempererat relasi antarmasyarakat kedua negara.

Momentum penguatan tersebut semakin ditegaskan melalui kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada November 2024 lalu, yang menjadi tonggak penting hubungan bilateral.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai kolaborasi Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar karena didukung kekuatan ekonomi dan pasar yang luas.

"Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, Tiongkok berada di peringkat kedua dunia, sementara Indonesia dengan 285 juta jiwa berada di peringkat keempat. Keduanya anggota G20, Tiongkok memiliki PDB USD 17,8 triliun dan Indonesia USD 1,4 triliun. Ini merupakan tonggak penting karena kolaborasi kedua negara terbuka luas dan menawarkan peluang besar bagi dunia usaha dan perekonomian nasional," ujar Airlangga saat menyampaikan keynote speech pada perayaan 20th Anniversary Celebration of the China Chamber of Commerce in Indonesia, Jumat (9/1/2026).

Selain menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan nilai perdagangan mencapai USD 135,2 miliar pada 2024, kerja sama kedua negara juga diperkuat melalui inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP). Program ini menjadi kerangka strategis untuk memperdalam kolaborasi industri, mendorong investasi, serta mengintegrasikan rantai pasok kedua negara.

Nota Kesepahaman TCTP yang pertama kali ditandatangani pada 2021 kembali diperbarui pada Mei 2025 melalui penandatanganan oleh Menko Airlangga bersama Menteri Perdagangan RRT Wang Wentao. Penandatanganan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang, sebagai simbol kuatnya komitmen politik di tingkat tertinggi.

Sebagai tindak lanjut penguatan TCTP, telah disepakati penandatanganan 16 proposal proyek antara perusahaan-perusahaan asal Fujian dengan mitra Indonesia. Total nilai proyek tersebut mencapai Rp 36,4 triliun atau sekitar USD 2,19 miliar, yang mencakup sektor strategis seperti logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, drone, baterai, hingga kecerdasan buatan.

"Ke depan, Indonesia terbuka untuk memperdalam kerja sama di berbagai bidang, mulai dari infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan, hingga pengembangan sumber daya manusia," kata Airlangga.

Di bidang investasi, pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki iklim usaha melalui reformasi regulasi, pembangunan infrastruktur, serta konsistensi kebijakan agar Indonesia tetap menjadi destinasi investasi jangka panjang yang kompetitif. Saat ini, pemerintah telah membentuk gugus tugas khusus untuk mempercepat realisasi program strategis dan proses investasi.

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh penting, antara lain Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Transmigrasi, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Ketua CCCI, serta Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Editor: Gokli