Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kepri Duduki Posisi Empat Tertinggi Nasional

Paradoks Ekonomi Batam, Bayangan Pengangguran Terbuka di Balik Laju Pertumbuhan Investasi
Oleh : Aldy
Senin | 12-01-2026 | 11:08 WIB
Rafki-Rasyid.jpg Honda-Batam
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Batam terus mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sepanjang 2025, geliat ekonomi kota industri di Provinsi Kepulauan Riau ini menunjukkan tren yang menggembirakan. Namun di balik derasnya arus investasi, persoalan pengangguran masih menjadi ironi yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Hingga Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepri masih bertengger di posisi empat tertinggi secara nasional. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan investasi dan daya serap tenaga kerja, khususnya di Kota Batam.

Berdasarkan data ekonomi Batam, realisasi investasi hingga Triwulan III/2025 menunjukkan kinerja solid. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat nilai investasi telah mencapai Rp 54,7 triliun atau sekitar 91 persen dari target tahunan sebesar Rp 60 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap iklim usaha Batam di tengah dinamika ekonomi global.

BP Batam menilai capaian tersebut menunjukkan ekosistem investasi Batam berada pada jalur yang positif. Sejumlah indikator makroekonomi dinilai konsisten membaik, mulai dari arus modal masuk, pertumbuhan ekonomi, hingga kontribusi Batam terhadap perekonomian regional.

Pertumbuhan ekonomi Batam pada Triwulan II/2025 tercatat sebesar 6,66 persen, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 6,69 persen. Batam juga menjadi penggerak utama ekonomi Kepri dengan kontribusi sekitar 66,72 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut.

Meski demikian, di balik capaian ekonomi tersebut, persoalan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menunjukkan TPT pada 2025 berada di kisaran 6,45 hingga 6,89 persen, dengan Kota Batam sebagai penyumbang terbesar. Kondisi ini menjadikan Kepri, khususnya Batam, tetap berada di jajaran daerah dengan pengangguran tertinggi di Indonesia.

Walaupun tren pengangguran menunjukkan penurunan pascapandemi Covid-19 --di mana TPT Kepri sempat menyentuh 10,12 persen-- penurunannya dinilai belum secepat provinsi lain. Di Batam, data BPS pada Agustus 2024 mencatat TPT sebesar 7,68 persen, dengan total 50.431 orang belum bekerja. Dari jumlah tersebut, 26.162 orang merupakan lulusan SMA.

Struktur pengangguran di Batam didominasi lulusan pendidikan menengah, khususnya SMA dan SMK. BPS mencatat tingkat pengangguran pada kelompok ini berada di kisaran 7,8 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan perguruan tinggi maupun lulusan SMP ke bawah.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tingginya arus investasi belum sepenuhnya selaras dengan penyerapan tenaga kerja lokal. Sebagian besar investasi yang masuk tergolong padat modal dan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan spesifik, sertifikasi tertentu, serta penguasaan teknologi, sehingga penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar menjadi terbatas.

Di sisi lain, Batam tetap menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Statusnya sebagai kawasan industri dan perdagangan bebas mendorong arus masuk angkatan kerja baru yang kerap tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja sesuai kualifikasi, sehingga tingkat pengangguran sulit ditekan secara signifikan meski ekonomi tumbuh.

Masuknya investasi pusat data (data center) dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat citra Batam sebagai simpul industri digital regional. Sektor ini berkontribusi besar terhadap nilai investasi dan PDRB, namun dikenal memiliki penyerapan tenaga kerja langsung yang relatif terbatas setelah fase konstruksi selesai.

Selain tantangan struktural ketenagakerjaan, pelaku usaha juga masih menghadapi persoalan birokrasi perizinan yang dinilai kompleks. Meski upaya penyederhanaan telah dilakukan, proses perizinan masih melibatkan banyak otoritas dan membutuhkan waktu, yang berpotensi menunda realisasi usaha dan penyerapan tenaga kerja.

Sejumlah pengamat menilai, tantangan utama Batam ke depan bukan hanya menarik investasi besar, tetapi memastikan investasi tersebut berdampak luas bagi pasar kerja lokal. Penguatan pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan lulusan menengah, penyederhanaan perizinan, serta diversifikasi sektor ekonomi yang lebih padat karya modern dinilai menjadi kunci pertumbuhan yang lebih inklusif.

Catatan Dunia Usaha

Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu sejalan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. "Perlu dilihat apakah pertumbuhan ini ditopang industri padat karya atau padat modal. Jika sektor padat modal yang dominan, dampaknya terhadap lapangan kerja tentu terbatas," ujar Rafki, Senin (12/1/2026).

Ia mengapresiasi capaian investasi Batam, namun mengingatkan persaingan regional yang semakin ketat. Menurutnya, kedekatan Batam dengan Singapura serta fasilitas Free Trade Zone (FTZ) masih menjadi keunggulan utama, meski persoalan perizinan dinilai tetap menjadi pekerjaan rumah.

"Pelimpahan kewenangan ke BP Batam sudah berjalan, tetapi perlu waktu agar sistem benar-benar optimal. Mudah-mudahan awal 2026 prosesnya bisa lebih cepat," pungkas Rafki.

Editor: Gokli