Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Wamendag RI Dorong CEPA Indonesia-Pakistan di Pakistan Edible Oil Conference 2026
Oleh : Redaksi
Selasa | 13-01-2026 | 09:28 WIB
PEOC-2026.jpg Honda-Batam
Wamendag Dyah Roro Esti Widya Putri, saat menghadiri The 8th Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) 2026 yang berlangsung di Hotel Movenpick Karachi pada 9-10 Januari 2026. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Industri minyak makanan global kembali menyorot Karachi dengan digelarnya The 8th Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) 2026 yang berlangsung di Hotel Movenpick Karachi pada 9-10 Januari 2026. Forum bergengsi ini menjadi ajang strategis bagi pemasok, pembeli, dan pemangku kepentingan sektor minyak nabati, lemak, dan biji minyak dari berbagai negara.

Konferensi tahunan tersebut menandai tonggak penting dengan penyampaian pidato utama oleh Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri. Kehadiran Wakil Menteri menegaskan peran aktif Indonesia dalam peta industri minyak nabati global, khususnya dalam memperkuat kemitraan dengan Pakistan.

Wakil Menteri Perdagangan RI menghadiri PEOC ke-8 pada 10 Januari 2026 didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Pakistan, Chandra W Sukotjo, serta Konsul Jenderal RI di Karachi, Mudzakir.

Dalam pidato utamanya, Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan komitmen Indonesia untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Pakistan menuju kemitraan ekonomi strategis melalui perluasan perjanjian perdagangan menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditargetkan terealisasi pada 2027.

Indonesia memandang CEPA sebagai instrumen strategis untuk membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan fasilitasi perdagangan, serta menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif dan terprediksi bagi pelaku bisnis di kedua negara, termasuk di sektor minyak nabati. Ia juga menekankan pentingnya pertumbuhan perdagangan yang seimbang dan berkelanjutan, tidak terbatas pada aktivitas impor dan ekspor, tetapi juga mencakup investasi, usaha patungan, dan pengembangan industri hilir.

"Indonesia bangga dengan hubungan persaudaraan yang telah lama terjalin dengan Pakistan. Saat ini, terdapat momentum politik yang positif sebagai landasan untuk membawa hubungan ekonomi bilateral ke tingkat yang lebih tinggi," ujar Dyah Roro Esti Widya Putri.

Ia menambahkan, momentum tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan arus perdagangan dan kerja sama investasi secara berkelanjutan. Menurutnya, pertumbuhan perdagangan ke depan tidak hanya bertumpu pada transaksi konvensional, tetapi juga melalui investasi, proyek usaha patungan, industri hilir, serta pertukaran pengetahuan yang memberikan nilai tambah jangka panjang bagi kedua negara.

Pernyataan tersebut sejalan dengan Nota Kesepahaman (MoU) pembentukan Komite Perdagangan Bersama yang telah ditandatangani Indonesia dan Pakistan, serta kerja sama berkelanjutan di sejumlah sektor strategis seperti kesehatan dan pertanian.

Menutup sambutannya, Wakil Menteri Perdagangan RI menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara atas konsistensi mereka dalam mempertemukan para pemangku kepentingan industri minyak nabati di satu forum, serta berharap PEOC ke-8 dapat berkontribusi nyata terhadap penguatan industri minyak nabati Pakistan.

Kehadiran Wakil Menteri Perdagangan RI di PEOC 2026 juga menegaskan pentingnya hubungan strategis antara Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dan Pakistan sebagai salah satu pasar ekspor utamanya. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Islamabad pada Desember 2025, yang menandai pembentukan Kemitraan Strategis Indonesia-Pakistan sekaligus peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Seiring upaya Pakistan untuk melakukan diversifikasi produk bernilai tambah, PEOC 2026 berperan sebagai platform penting dalam memperkuat posisi negara tersebut di panggung internasional. Melalui kolaborasi global yang erat, Pakistan terus memantapkan diri sebagai pusat logistik utama dan pemain kunci industri minyak nabati di kawasan Asia Selatan.

Sejak pertama kali digelar pada 2016, PEOC telah menjadi katalis inovasi industri minyak nabati di Karachi. Konferensi 2026 menghadirkan berbagai wawasan strategis, termasuk proyeksi harga minyak nabati dan biji minyak global, sekaligus memberikan apresiasi kepada para pemangku kepentingan internasional yang berkontribusi terhadap pertumbuhan industri ini.

"PEOC bertujuan memposisikan Pakistan sebagai salah satu pasar terpenting dalam industri minyak nabati global. Kami ingin dunia mengakui Pakistan atas keandalan, konsistensi, dan keunggulan logistik regionalnya," ujar panitia penyelenggara.

Dengan partisipasi aktif pemerintah Indonesia dan para pakar internasional, PEOC ke-8 diharapkan mampu mendorong kolaborasi baru yang memperkuat ketahanan pangan global serta membantu menjaga stabilitas harga minyak nabati di pasar internasional.

Editor: Gokli