Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

OJK Nilai Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Jelang Prospek Ekonomi 2026
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 09-01-2026 | 17:08 WIB
RDK-Bulanan-OJK.jpg Honda-Batam
Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 24 Desember 2025. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan menjelang prospek ekonomi tahun 2026. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

OJK mencatat, rilis data perekonomian global secara umum menunjukkan perbaikan, meskipun masih dibayangi sejumlah risiko. Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, namun lajunya mengalami moderasi seiring melemahnya kepercayaan konsumen global. Sementara itu, kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi pasar.

Untuk tahun 2026, lembaga-lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan sebelum pandemi. Perlambatan ini dipicu meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.

Di Amerika Serikat, perekonomian tercatat masih relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen (saar), lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, penurunan impor, serta peningkatan investasi, khususnya yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan.

Namun demikian, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda moderasi. Inflasi juga mengalami penurunan, dengan inflasi November 2025 tercatat sebesar 2,7 persen dan inflasi inti turun menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 3,0 persen pada Oktober 2025.

Sebaliknya, perlambatan ekonomi Tiongkok masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga tercatat belum pulih optimal, sementara dari sisi penawaran, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi. Tekanan di sektor properti juga masih membayangi perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut.

Perkembangan global ini mendorong perbedaan arah kebijakan bank sentral dunia. The Federal Reserve memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Bank of England (BoE) juga menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang 2025.

Di sisi lain, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga kebijakannya ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang.

Perbedaan kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham global secara umum menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun dibayangi kekhawatiran potensi gelembung di saham-saham teknologi. Sementara itu, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi pemerintah global seiring berakhirnya praktik carry trade yang selama ini menopang pasar.

Memasuki awal 2026, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik, termasuk situasi di Venezuela, serta potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global.

Di tengah dinamika global tersebut, OJK mencatat kondisi perekonomian domestik Indonesia masih relatif terjaga. Pada Desember 2025, inflasi inti tercatat meningkat, namun sektor manufaktur masih berada di zona ekspansif. Kinerja eksternal juga tetap solid, tercermin dari neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

Editor: Yudha