Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gandeng BRI, Nagoya Heritage Disiapkan Jadi Mode Kawasan Wisata Baru
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 02-01-2026 | 18:08 WIB
AR-BTD-9036-Mouris-Limanto.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai menggarap kawasan Nagoya Heritage dan New Nagoya sebagai bagian dari pengembangan Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP). Kawasan ini disiapkan menjadi destinasi wisata baru berkonsep walkable city yang ramah pejalan kaki serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya sektor UMKM.

Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menyampaikan, dalam tahap awal pengembangannya, BP Batam akan memfokuskan strategi pada fase crowd gather atau menarik keramaian terlebih dahulu sebelum dilakukan pembenahan fisik secara bertahap.

Dalam mendukung pengembangan UMKM, kata dia, BP Batam juga menggandeng Bank BRI sebagai mitra strategis. Salah satu konsep yang tengah ditawarkan adalah pembentukan "Kampung BRI" di kawasan PKL sebagai pusat aktivitas ekonomi rakyat.

"Kita tawarkan ke BRI, apakah memungkinkan membuat Kampung BRI. Mulai dari penataan kios, pembiayaan murah untuk UMKM, hingga pengelolaan kawasan seperti sampah, keamanan, dan fasilitas umum," kata Mouris, saat melakukan peninjauan bersama stekholder dan instansi terkait, di kawasan Harbourbay, Jumat (2/1/2026) sore.

Mouris menjelaskan, kerja sama tersebut saat ini masih dalam tahap diskusi dan perumusan konsep. Namun, BRI disebut merespons positif dan telah turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi kawasan yang akan dikembangkan.

Dua momentum besar, yakni perayaan Imlek dan Idulfitri, akan dimanfaatkan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi dan wisata di sepanjang kawasan Nagoya Heritage.

"Kita mau ramaikan dulu areanya. Budaya baru kita bangun, orang datang untuk kuliner, belanja, dan menikmati kawasan. Setelah itu hidup, barulah pembenahan fisik dilakukan pelan-pelan," ujar Mouris,

Mouris mengungkapkan, setelah arus pengunjung terbentuk, roda perekonomian diyakini akan bergerak secara alami. Pelaku usaha di kawasan tersebut diharapkan terdorong untuk berinovasi dan mempercantik usahanya secara mandiri seiring meningkatnya kunjungan.

Terkait keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang telah lama berusaha di kawasan itu, Mouris menegaskan BP Batam tidak melakukan penertiban, melainkan penataan secara humanis. Koordinasi pun telah dilakukan bersama Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) untuk pendataan dan pengelolaan kawasan.

"Bukan ditertibkan, tapi ditata. Termasuk kawasan Tanjung Pantun, semuanya akan kita tata, termasuk sistem pembayaran digital yang saat ini masih manual," jelasnya.

Selain menghidupkan aktivitas ekonomi, BP Batam juga mulai melakukan survei lapangan bersama para pemangku kepentingan untuk memetakan berbagai persoalan teknis. Mulai dari kualitas pedestrian, sistem drainase, fasilitas penyeberangan, hingga aspek kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.

"Fungsi survei hari ini adalah menangkap langsung apa saja persoalan di lapangan. Semua akan kita garap bersama sesuai peran masing-masing," pungkas Mouris.

Editor: Yudha