Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Minat Investor Ritel Meningkat, Reksa Dana dan ETF Jadi Pintu Masuk Pasar Modal
Oleh : Aldy
Rabu | 24-12-2025 | 14:48 WIB
IDX-2025.jpg Honda-Batam
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Seiring meningkatnya literasi keuangan dan kemudahan akses ke pasar modal, produk investasi kolektif seperti reksa dana dan Exchange-Traded Fund (ETF) kian diminati investor ritel. Kedua instrumen tersebut dinilai menjadi sarana efektif bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal tanpa harus memilih saham secara individual.

Reksa dana merupakan wadah penghimpunan dana dari masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek, mulai dari saham, obligasi, hingga instrumen pasar uang. Sementara itu, ETF adalah salah satu bentuk reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek layaknya saham, sehingga menawarkan kombinasi antara diversifikasi portofolio dan fleksibilitas transaksi.

ETF dinilai menarik bagi investor yang membutuhkan likuiditas tinggi karena dapat diperjualbelikan sepanjang jam perdagangan bursa. Berbeda dengan reksa dana konvensional yang transaksi belinya mengacu pada Nilai Aktiva Bersih (NAB) di akhir hari, harga ETF bergerak secara real time mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran pasar.

"ETF memberikan kemudahan bagi investor untuk masuk dan keluar posisi secara intraday, sekaligus tetap memperoleh manfaat diversifikasi," demikian keterangan yang disampaikan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam publikasi pasar modalnya, Rabu (24/12/2025).

BEI mencatat peningkatan jumlah produk ETF yang tercatat di bursa. Hingga Oktober 2025, tercatat sekitar 45 produk ETF beredar, mencerminkan semakin beragamnya pilihan investasi berbasis indeks, sektor, maupun tema tertentu.

Selain ETF pasif yang meniru indeks, terdapat pula produk ETF dengan pengelolaan yang lebih aktif. Ke depan, perluasan underlying asset, termasuk wacana ETF berbasis emas, turut menandai berkembangnya ekosistem produk investasi di pasar modal.

Di sisi lain, industri reksa dana nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data industri, nilai dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana pada Oktober 2025 tercatat mencapai sekitar Rp 621,7 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat investor ritel terhadap reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham, seiring masifnya penggunaan aplikasi fintech dan platform distribusi digital.

Jumlah produk reksa dana pun tercatat mencapai sekitar 1.900 produk dari berbagai kategori. Namun, besarnya pilihan tersebut menuntut kehati-hatian investor dalam memilih produk yang sesuai dengan tujuan investasi, profil risiko, serta struktur biaya yang diterapkan oleh masing-masing manajer investasi.

Dari sisi inklusi pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan lonjakan jumlah investor sepanjang 2025. Jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat bergerak menuju kisaran 18 hingga 19 juta investor pada pertengahan hingga akhir 2025.

"Pertumbuhan jumlah investor mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk pasar modal, seiring kemudahan pembukaan akun dan intensifikasi edukasi keuangan," demikian keterangan OJK dalam laporan pasar modal tahunannya.

Bagi investor pemula yang ingin memulai investasi melalui ETF, sejumlah hal perlu diperhatikan, antara lain tujuan investasi, struktur biaya, tingkat likuiditas ETF, serta komposisi portofolio dan kinerja historis. Informasi resmi dari OJK, BEI, KSEI, dan laporan manajer investasi menjadi rujukan utama dalam memahami risiko dan potensi imbal hasil.

Dengan terus berkembangnya produk dan meningkatnya partisipasi masyarakat, reksa dana dan ETF diproyeksikan tetap menjadi instrumen andalan dalam memperluas basis investor ritel di pasar modal Indonesia.

Editor: Gokli