Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

KKP Catat Surplus Perdagangan Perikanan USD 4,53 Miliar, Indonesia Konsisten Jadi Net Eksportir
Oleh : Redaksi
Selasa | 16-12-2025 | 13:48 WIB
1612_KKP-Catat-Surplus-Perikanan.jpg Honda-Batam
Konferensi pers Capaian Kinerja Setor Keluaran dan Perikanan 2025. (KKP)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali mencatatkan kinerja positif dengan mengantarkan Indonesia sebagai negara net eksportir produk perikanan. Hingga Oktober 2025, neraca perdagangan perikanan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 4,53 miliar atau meningkat 2,9 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, menjelaskan surplus tersebut berasal dari selisih nilai ekspor dan impor perikanan sepanjang Januari-Oktober 2025. Nilai ekspor perikanan tercatat sebesar USD 5,07 miliar, sementara nilai impor hanya USD 0,54 miliar atau sekitar 10,6 persen dari total ekspor.

"Kita patut berbangga karena Indonesia secara konsisten mampu menjaga posisi sebagai negara net eksportir, di mana nilai ekspor perikanan selalu lebih besar dibandingkan impornya," ujar Machmud dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/12/2025).

Machmud menyebutkan, kinerja ekspor perikanan menunjukkan tren pertumbuhan di sejumlah pasar utama. Ekspor ke Amerika Serikat meningkat 2,6 persen dengan nilai mencapai USD 1,604 miliar. Sementara itu, ekspor ke negara-negara ASEAN melonjak 22,7 persen senilai USD 811,64 juta, Jepang tumbuh 2,3 persen menjadi USD 506,28 juta, dan Uni Eropa naik 8,3 persen dengan nilai USD 379,54 juta.

Dari sisi komoditas, pertumbuhan ekspor ditopang oleh udang yang meningkat 8,6 persen, tuna dan cakalang naik 2,6 persen, serta cumi, sotong, dan gurita yang tumbuh 1,9 persen.

Menurut Machmud, peningkatan kinerja ekspor tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah strategis yang dilakukan KKP, antara lain penyelenggaraan ASEAN Tuna Working Group, pemenuhan persyaratan ekspor ke Amerika Serikat, pelaksanaan workshop Gap Assessment Stelina (Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional), pelatihan audit internal HACCP, kegiatan business matching, hingga partisipasi dalam pameran internasional.

"Alhamdulillah, di tengah dinamika global tahun ini, ekspor udang tetap meningkat dan ekspor ke pasar Amerika Serikat juga menunjukkan tren positif," katanya.

Selain kinerja ekspor, Machmud juga mengungkapkan capaian positif dari sisi investasi sektor kelautan dan perikanan. Pada triwulan III 2025, nilai investasi tercatat mencapai Rp7,8 triliun. Investasi tersebut tersebar pada sektor pengolahan sebesar 32,26 persen, budidaya 27,48 persen, pemasaran 21,72 persen, penangkapan 15,35 persen, serta jasa perikanan 3,19 persen.

Ia menambahkan, capaian investasi tersebut diperoleh melalui berbagai upaya, seperti pendampingan rencana investasi bagi investor dalam dan luar negeri, implementasi perizinan berusaha sektor kelautan dan perikanan, serta penyelenggaraan forum investasi dan business matching.

Dalam rangka memperkuat fondasi ekonomi sektor kelautan dan perikanan, KKP juga terus mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sepanjang 2025, KKP telah mengkurasi 657 UMKM kelautan dan perikanan melalui program UMKM naik kelas, disertai bimbingan teknis mencakup aspek legalitas, administrasi, pembiayaan, hingga pemasaran.

"UMKM merupakan salah satu penopang utama produk domestik bruto. Karena itu, keberadaannya harus terus diperkuat. Tahun ini kami mengkurasi 657 UMKM agar naik kelas dari sisi legalitas, pembiayaan, dan pemasaran," jelas Machmud.

Pada sektor pembiayaan, KKP juga melakukan fasilitasi dan literasi keuangan, koordinasi kelompok kerja kredit program, serta sosialisasi sistem resi gudang. Hasilnya, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor kelautan dan perikanan mencapai Rp 4,7 triliun kepada 91.304 debitur. Penyaluran KUR tersebut mencakup sektor budidaya sebesar 33,87 persen, perdagangan hasil perikanan 30,9 persen, penangkapan ikan 23,75 persen, jasa perikanan 8,2 persen, pengolahan 2,85 persen, dan pergaraman 0,38 persen.

"Tahun ini boleh saja berakhir, tetapi kami tidak akan berhenti untuk terus memberikan yang terbaik bagi sektor kelautan dan perikanan," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa ekspor perikanan merupakan fondasi penting dalam penguatan ekonomi biru, peningkatan kesejahteraan pelaku usaha, serta perluasan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global. KKP, kata dia, berkomitmen menjaga kualitas, memperkuat standar, dan memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan nasional.

Editor: Gokli