Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dongkrak PDB 8 Persen, Kemenperin Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Silika 2025-2045
Oleh : Redaksi
Senin | 15-12-2025 | 13:08 WIB
Taufiek-Bawazier.jpg Honda-Batam
Direktur Jenderal IKFT Kemenperin, Taufiek Bawazier. (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat dukungannya terhadap pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui percepatan hilirisasi dan industrialisasi. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor industri nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (Ditjen IKFT) Kemenperin meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Silika Tahun 2025-2045. Dokumen strategis ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 8 persen pada 2029.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa hilirisasi industri silika merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. "Pengembangan hilirisasi silika tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi nasional, tetapi juga menimbulkan multiplier effect, seperti penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan investasi, serta dukungan terhadap kedaulatan pangan, energi, dan sektor terkait lainnya," ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Ahad (14/12/2025).

Berdasarkan data Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia memiliki cadangan pasir silika sebesar 7,8 miliar ton, batu kuarsa 24,8 juta ton, serta sumber daya kuarsit sekitar 1,65 miliar ton. Ketersediaan tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan hilirisasi dan penguatan industri silika nasional.

Direktur Jenderal IKFT Kemenperin, Taufiek Bawazier, menegaskan bahwa hilirisasi silika memiliki potensi nilai tambah yang sangat signifikan. "Melalui hilirisasi, solar-grade wafer silikon berpeluang meningkatkan nilai hingga 1.300 kali lipat, bahkan mencapai 27 kali lipat apabila diolah menjadi electronic-grade wafer silikon," kata Taufiek.

Ia menambahkan, peta jalan tersebut menjadi krusial agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Secara bertahap, industri silika diarahkan untuk menerapkan hilirisasi terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan target capaian hingga 2045. Pengembangan rantai industri turunan silika mencakup produksi dari Metallurgical-Grade Silicon (MG-Si) hingga polysilicon.

Selain itu, peta jalan ini menargetkan pengembangan 10 kawasan industri pendukung serta penerapan prinsip industri hijau pada 10 perusahaan industri.

Menurut Taufiek, keberhasilan hilirisasi silika juga mensyaratkan sejumlah faktor kunci, antara lain ketersediaan bahan baku, pasokan energi yang andal, kepastian offtaker produk, serta regulasi yang memadai. Dukungan lintas pemangku kepentingan, termasuk kementerian dan lembaga, Bank Indonesia, asosiasi, serta pelaku usaha, dinilai penting untuk memastikan implementasi berjalan optimal.

Melalui visi Roadmap Hilirisasi Silika: Membangun Industri Antara Berbasis Silika untuk Mendukung Ekosistem Industri Panel Surya dan Semikonduktor yang Mandiri dan Berdaya Saing Global 2025-2045, Kemenperin berharap kebijakan hilirisasi dapat memberikan dampak positif bagi seluruh pemangku kepentingan serta menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Editor: Gokli