Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Akademisi Desak Pemerintah Perketat Regulasi Kental Manis demi Lindungi Kesehatan Balita
Oleh : Redaksi
Kamis | 11-12-2025 | 16:08 WIB
Dr-Tria.jpg Honda-Batam
Guru Besar Gizi UMJ, Dr Tria Astika Endah Permatasari. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi mendesak pemerintah untuk memperketat aturan terkait konsumsi kental manis, khususnya pada balita.

Desakan ini menguat setelah penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) menemukan bahwa produk kental manis masih sering disalahartikan sebagai susu dan dikonsumsi layaknya minuman bernutrisi oleh keluarga di Bogor, Semarang, dan Kulon Progo.

Guru Besar Gizi UMJ, Dr Tria Astika Endah Permatasari, menyatakan bahwa permasalahan kental manis bukan sekadar isu ekonomi, tetapi berkaitan dengan lemahnya regulasi yang memungkinkan mispersepsi terus terjadi. "Pemerintah harus berani dan tegas dalam edukasi serta kebijakan. Generasi manis hari ini bisa berujung pada masa depan pahit," tegas Prof Tria, dalam keterangan pers, Kamis (11/12/2025).

Penelitian tersebut menemukan bahwa konsumsi kental manis sudah menjadi bagian dari budaya keluarga. Banyak orang tua memberikan kental manis kepada anak karena mereka sendiri dibesarkan dengan pemahaman keliru bahwa produk tersebut sama dengan susu. Para akademisi menilai perubahan tidak akan efektif tanpa intervensi kebijakan yang konsisten dan jangka panjang.

"Perubahan perilaku membutuhkan waktu bertahun-tahun, bukan hanya tiga sampai enam bulan," ujar Prof Tria.

Ia juga mengusulkan pemerintah mencontoh negara lain yang sudah menerapkan label kandungan gula secara jelas, termasuk penggunaan color guidance sebagai peringatan visual agar masyarakat memahami risiko konsumsi tinggi gula.

Sementara itu, Koordinator Prodi Gizi UNNES, Dr Mardiana, menilai lemahnya regulasi dan edukasi membuat konsumsi kental manis terus berulang, terutama di kelompok ekonomi menengah ke bawah. Ia menekankan perlunya langkah konkret pemerintah untuk menindaklanjuti temuan riset tersebut.

"Jika pemerintah tegas seperti pada regulasi rokok, persoalan ini akan lebih mudah dikendalikan. Edukasi dan advokasi harus berjalan bersama agar periklanan tidak lagi menyesatkan," jelas Mardiana.

Dosen Unisa Yogyakarta, Luluk Rosida, mengungkapkan bahwa penelitian di Kulon Progo menemukan banyak kasus gangguan kesehatan pada balita, salah satunya karies gigi. "Sebanyak 16 anak mengalami gigi karies berdasarkan observasi yang kami lakukan," ungkapnya.

Para akademisi berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penguatan kebijakan, termasuk edukasi publik, pengawasan periklanan, dan regulasi yang lebih tegas agar konsumsi kental manis tidak lagi disalahartikan sebagai produk pengganti susu bagi anak-anak.

Editor: Gokli