Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Tekstil Ditekan Tantangan, Pemerintah Siapkan 20 Rekomendasi Revitalisasi TPT Nasional
Oleh : Redaksi
Kamis | 11-12-2025 | 14:48 WIB
forum-kebijakan.jpg Honda-Batam
Forum Kebijakan Strategis di Jakarta, Kamis (9/12/2025). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), salah satu sektor padat karya terbesar di Indonesia, kembali menghadapi tekanan pada triwulan III-2025. Meski menyerap sekitar 3,75 juta tenaga kerja atau 19,16 persen dari industri manufaktur, serta menghasilkan devisa ekspor mencapai USD 6,92 miliar, pertumbuhan PDB sektor TPT hanya berada di level 0,93 persen (yoy).

Di sisi lain, kinerja industri juga dibayangi defisit neraca perdagangan serta kesenjangan utilisasi produksi. Pada Juli 2025, tingkat utilisasi pakaian jadi mencapai 72,67 persen, sementara produksi tekstil hanya berada di angka 51,71 persen. Kondisi tersebut menandakan perlunya sinkronisasi kebijakan lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing sektor TPT.

Plt Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Dida Gardera, menyebut industri TPT mulai menunjukkan ciri sebagai sunset industry karena stagnasi teknologi dan meningkatnya persaingan dari produk impor.

"Kalau kita lihat, banyak outlet tekstil di Bandung tahun 80-90-an kini sudah jauh berkurang. Ini menjadi indikasi bahwa teknologi industri perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan produk luar negeri," ujar Dida dalam Forum Kebijakan Strategis di Jakarta, Kamis (9/12/2025).

Untuk merumuskan kebijakan yang lebih kuat dan adaptif, Kemenko Perekonomian bekerja sama dengan Prospera menggelar Forum Kebijakan Strategis bertajuk "Arah Pengembangan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi yang Berkelanjutan dan Berdaya Saing Global".

Kajian tersebut memetakan kondisi industri dari hulu hingga hilir, mengidentifikasi peluang, tantangan struktural, serta menyusun rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ekosistem industri TPT. Proses penyusunan dilakukan oleh tim multidisiplin Prospera bersama kementerian/lembaga, asosiasi, pelaku industri, dan akademisi.

Deputi Dida menegaskan bahwa kebijakan yang disusun harus mampu meningkatkan kontribusi TPT terhadap PDB, menjaga lapangan kerja, dan menyediakan produk berkualitas serta terjangkau bagi masyarakat.

Peluang dan Tantangan: Dari Bahan Baku hingga Tekanan Global

Kajian menemukan peluang pertumbuhan signifikan melalui pengembangan high value garments dan sustainable materials yang kini menjadi fokus pasar global. Namun, sektor TPT masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural, seperti:

  • Kesenjangan kompetensi SDM,
  • Ketergantungan impor bahan baku,
  • Tingginya biaya energi dan logistik,
  • Lemahnya integrasi rantai pasok,
  • Ancaman overcapacity dari Tiongkok serta praktik dumping.

Secara keseluruhan, terdapat 20 rekomendasi kebijakan yang terbagi dalam empat pilar utama untuk memperkuat struktur industri.

Rekomendasi prioritas mencakup penataan tata niaga impor, penguatan kapasitas industri berbasis standar keberlanjutan global, pemanfaatan peluang dari perjanjian IEU CEPA, serta fokus pada produk bernilai tambah tinggi.

Direktur Industri, Perdagangan, dan Peningkatan Investasi Kementerian PPN/Bappenas, Roby Fadillah, menilai industri TPT Indonesia masih terjebak di level assembly atau cut-make-trim, yang memberi nilai tambah rendah dalam rantai produksi global. "Diperlukan upgrade nilai tambah melalui intra-sector upgrading dan inter-sector upgrading. Sustainable fashion bisa menjadi strategi lompatan," jelas Roby.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, menegaskan bahwa Kemenperin berkomitmen menjalankan program prioritas dan quick wins TPT 2026–2029 untuk mempercepat transformasi menuju industri hijau, sirkular, dan digital.

Hasil forum akan menjadi masukan awal bagi Tim Kerja Revitalisasi Ekosistem Industri TPT lintas kementerian/lembaga, sekaligus dasar dalam penyusunan Strategi Nasional Pengembangan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Editor: Gokli