Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

IDAI Gerak Cepat Tangani Korban Banjir dan Longsor di Aceh-Sumatera, Prioritaskan Perlindungan Anak
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-12-2025 | 13:08 WIB
0212_IDAI-Gerak-Cepat-2025.jpg Honda-Batam
IDAI mengerahkan tim medis dan bantuan kemanusiaan untuk menangani bencana banjir dan longsor Aceh-Sumut-Sumbar. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengerahkan tim medis dan bantuan kemanusiaan untuk menangani bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025. Respons cepat tersebut difokuskan pada penyediaan layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan logistik bagi anak-anak serta kelompok rentan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Pirim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa tiga provinsi tersebut. Ia mengapresiasi kerja cepat para ketua cabang, anggota IDAI, dan Satgas Bencana yang tetap bertugas meski sebagian dokter turut menjadi korban.

"Kami berterima kasih kepada seluruh anggota IDAI yang sigap berkolaborasi dengan BNPB, dinas kesehatan, TNI/Polri, dan relawan untuk memastikan bantuan tepat sasaran," ujarnya, Senin (1/12/2025).

Anak dan Kelompok Rentan Jadi Prioritas Evakuasi

Dr Piprim menegaskan bahwa dalam situasi darurat, anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil merupakan kelompok yang paling berisiko. "Keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi," katanya.

Dampak Bencana di Aceh dan Sumatera

Berdasarkan laporan terpadu tiga cabang IDAI per 1 Desember 2025, berikut gambaran situasi lapangan:

Korban jiwa dan warga terdampak:

  • Sumatera Barat: 148 meninggal dunia, termasuk empat anak; 105 orang hilang; delapan dirawat.
  • Sumatera Utara: Puluhan korban meninggal dan ratusan warga terdampak di Sibolga, Tapanuli, Langkat, dan Binjai.
  • Aceh: Sejumlah wilayah seperti Pidie Jaya mengalami gangguan akses layanan kesehatan dengan sejumlah korban jiwa dilaporkan.

Wilayah terisolasi:
Sejumlah daerah di Sumbar (Padang, Solok, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat), Sumut (Sibolga, Tapanuli Tengah, Pandan, Sipirok, Langkat, Binjai), dan Aceh (Pidie Jaya, Aceh Utara-Lhokseumawe) masih sulit dijangkau akibat jalan rusak dan jembatan putus.

Kondisi lapangan:
Banyak lokasi mengalami pemadaman listrik, putusnya sinyal komunikasi, kekurangan air bersih, bahan pangan, pakaian, dan obat-obatan. Operasional fasilitas kesehatan terganggu, termasuk RSUD Pidie Jaya yang kekurangan tenaga kesehatan.

Respons IDAI: Layanan Medis dan Bantuan Langsung

Tim dokter spesialis anak dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah diterjunkan ke berbagai titik bencana bekerja sama dengan BNPB dan dinas kesehatan.

A. Pelayanan Kesehatan Anak:

  • Sumatera Utara:
    • Binjai: 66 anak diperiksa dengan kasus terbanyak ISPA, diare, dan infeksi kulit.
    • Langkat: 125 anak diperiksa dengan dominasi kasus ISPA dan infeksi kulit.
    • Medan Barat: 54 anak diperiksa, mayoritas ISPA.
  • Sumatera Barat:
    • Melakukan skrining tumbuh kembang di Padang (47 anak; satu terindikasi speech delay).
    • Pengobatan di Kota Padang dan Pariaman.
  • Aceh:
    • Mengirim Emergency Medical Team (EMT) ke Pidie Jaya untuk memperkuat RSUD dan membuka layanan klinik keliling.
    • Memberikan layanan kesehatan di posko pengungsian, termasuk di Mesjid Agung Bireuen.

B. Dukungan Non-Medis:

  • Distribusi air bersih, makanan siap santap, sembako, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan.
  • Pemenuhan gizi balita di Sumbar melalui kolaborasi dengan AIMI, mendistribusikan ratusan porsi MPASI ke posko pengungsian.
  • Kegiatan trauma healing untuk anak, seperti di Kecamatan Nanggalo, Padang.
  • Dukungan psikologi anak untuk pemulihan proses belajar.

Kendala yang Dihadapi

IDAI mencatat sejumlah hambatan, antara lain:

  1. Kekurangan obat-obatan untuk ISPA, diare, dermatitis, dan antibiotik anak.
  2. Logistik terbatas, termasuk makanan pokok, pakaian, selimut, air minum, dan bahan bakar.
  3. Akses sulit karena jalan putus dan wilayah terisolasi.
  4. Minimnya tenaga kesehatan di posko pengungsian.
  5. Tingginya risiko penyakit lingkungan akibat sanitasi buruk.

Rencana Lanjutan dan Ajakan Bantuan

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr Kurniawan Taufiq Kadafi, menyatakan pihaknya terus memperluas jangkauan bantuan serta memperkuat pos komando seperti Pos HEOC di Sumbar untuk koordinasi data dan distribusi logistik. IDAI juga meningkatkan kolaborasi antarlembaga dan bersiap memasuki fase pemulihan dengan fokus pada kesehatan anak, penyediaan air bersih, pemantauan penyakit berbasis imunisasi, dan dukungan psikososial berkelanjutan.

IDAI mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melalui donasi obat-obatan anak, susu formula, makanan bayi, pakaian anak, selimut, air bersih, dan perlengkapan kebersihan. Organisasi ini juga membuka peluang bagi relawan tenaga kesehatan untuk bergabung di daerah terdampak.

Informasi lebih lanjut mengenai pengumpulan donasi dan kebutuhan relawan tersedia di Posko Bencana IDAI cabang setempat.

Editor: Gokli