Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenperin-UNIDO Finalisasi Program 2026-2030 untuk Percepat Transformasi Industri Hijau Indonesia
Oleh : Redaksi
Rabu | 26-11-2025 | 10:28 WIB
IUPCP.jpg Honda-Batam
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam pertemuan bilateral dengan UNIDO di Riyadh, Arab Saudi, Senin (24/11/2025). (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat kemitraan strategis dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) melalui finalisasi Indonesia–UNIDO Programme for Country Partnership (IUPCP) periode 2026-2030.

Kerangka kerja sama ini menjadi instrumen penting diplomasi industri Indonesia sekaligus platform komprehensif untuk mendukung pembangunan industri nasional, transformasi hijau, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Program baru ini merupakan kelanjutan dari Indonesia-UNIDO Country Programme (IUCP) 2021-2025. Selama periode tersebut, kolaborasi kedua pihak menghasilkan beragam capaian konkret, mulai dari peningkatan daya saing industri, penerapan teknologi hijau, efisiensi proses produksi, hingga penguatan standar industri berkelanjutan.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan bahwa kerja sama Indonesia-UNIDO menjadi fondasi penting untuk mempercepat agenda transformasi industri nasional. "Indonesia tengah mempercepat transformasi industri hijau sebagai jalur utama menuju Net Zero Emissions 2060, bahkan target NZE sektor manufaktur dipercepat menjadi 2050 untuk memastikan daya saing di pasar global rendah karbon. Program GEIPP dan GGINP telah memberi dampak nyata bagi sektor industri sepanjang 2021-2025," ujar Faisol dalam pertemuan bilateral dengan UNIDO di Riyadh, Arab Saudi, Senin (24/11/2025).

Pertemuan tersebut dipimpin jajaran pimpinan tinggi UNIDO dan dihadiri Deputy to the Director General & Managing Director, Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development, Ciyong Zou. Hadir pula Francesco Azzena selaku Project Coordinator, UNIDO Regional Bureau for Asia & Pacific.

Kemenperin mencatat lima kawasan industri yang telah menjadi proyek percontohan eco-industrial park melalui GEIPP fase kedua, yaitu Batamindo, MM2100, KIIC Karawang, Kawasan Industri Medan, dan Deltamas. Langkah ini diharapkan menjadi katalis percepatan implementasi kawasan industri hijau secara nasional.

Wamen Faisol juga menegaskan bahwa ruang lingkup kerja sama dengan UNIDO akan diperluas, baik dari sisi teknis maupun skala dukungan. "Finalisasi Program 2026–2030 akan memperkuat dukungan teknis UNIDO, tidak hanya dalam standardisasi, sertifikasi, dan ekosistem industri hijau, tetapi juga dalam hilirisasi, rantai suplai global, transformasi digital, pengembangan SDM, serta pengembangan kewilayahan yang lebih merata," jelasnya.

Selain itu, Kemenperin tengah mendorong pembentukan Eco-Industrial Park (EIP) Center di Pusat Industri Digital 4.0 sebagai pusat keunggulan, inkubasi, dan katalis transformasi kawasan industri berwawasan lingkungan.

Indonesia dan UNIDO juga meninjau peluang penguatan sinergi melalui BRICS Center for Industrial Competencies (BCIC), khususnya dalam pengembangan SDM industri, peningkatan daya saing IKM, ekonomi sirkular, dan akselerasi transisi digital Industri 4.0.

Faisol menegaskan bahwa kerja sama ini semakin mendesak di tengah tuntutan global terhadap industri rendah emisi. "Industri merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, transformasi hijau adalah keharusan untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing jangka panjang," tegasnya.

Ia berharap program ini dapat diperluas hingga luar Pulau Jawa agar manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial dapat dirasakan lebih merata oleh pelaku industri di berbagai daerah.

Kemenperin juga tengah memfinalisasi regulasi pendukung transformasi kawasan industri hijau untuk memastikan keberlanjutan standar dan sertifikasi ke depan. "Melalui kolaborasi dengan UNIDO, Indonesia ingin memastikan bahwa transisi industri hijau membawa manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha," ujar Faisol.

Editor: Gokli