Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dorong Percepatan Pembangunan Terminal 2 Hang Nadim, BP Batam: Kami Ingin Prosesnya Lebih Cepat dan Efisien
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 11-11-2025 | 12:08 WIB
amsakar-Li.jpg Honda-Batam
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, saat ditemui di ruang rapat Kepala BP Batam, lantai delapan Gedung BP Batam, Senin (10/11/2025). (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menegaskan komitmen pihaknya untuk mempercepat pembangunan Terminal 2 Bandara Internasional Hang Nadim meski kerja sama antara PT Bandara Internasional Batam (BIB) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika) sempat terhenti.

BP Batam kini tengah melakukan pendalaman terhadap sejumlah aspek kerja sama agar proyek tersebut dapat berjalan kembali dengan lebih cepat dan efisien. "Tim kami sedang melakukan pembahasan detail dengan pihak bandara. Kami ingin memastikan seluruh proses berjalan sesuai kontrak dan ketentuan yang berlaku," ujar Amsakar saat ditemui di ruang rapat Kepala BP Batam, lantai delapan Gedung BP Batam, Senin (10/11/2025).

Amsakar menjelaskan, pengembangan Terminal 2 Hang Nadim dilakukan melalui konsorsium yang melibatkan tiga badan usaha: PT BIB, Incheon International Airport Corporation (IIAC), dan PT Angkasa Pura I. Salah satu pihak dalam konsorsium itu, kata Amsakar, sedang menghadapi kendala internal yang berdampak pada progres pembangunan.

"Ada tiga badan usaha dalam konsorsium. Salah satunya memang sedang mengalami masalah. Hasil pendalaman yang dilakukan Deputi 5 akan kami laporkan kepada pimpinan BP Batam," jelasnya.

Meski menghadapi dinamika internal, BP Batam tetap berharap proses pembangunan bisa segera dipercepat. "Kami berharap proyek Terminal 2 ini bisa dikerjakan lebih cepat dan efisien," tegas Amsakar.

Terkait Terminal Kargo yang sudah selesai dibangun hampir dua tahun lalu namun belum difungsikan, Amsakar menjelaskan belum ada laporan resmi dari PT BIB yang menyebutkan adanya ketidaksesuaian bangunan dengan spesifikasi yang diharapkan.

"Kalau memang ada ketidaksesuaian, seharusnya disampaikan secara resmi. Selama delapan bulan terakhir, tidak ada surat masuk yang menyinggung hal itu," katanya.

Ia menambahkan, persoalan teknis seperti kelengkapan alat X-ray sedang ditangani dan tidak berhubungan dengan struktur bangunan. "Itu hanya masalah teknis, seperti alat X-ray yang belum lengkap. Begitu dananya ada, kami lengkapi," ujarnya.

Amsakar juga menyayangkan jika persoalan teknis yang seharusnya bisa diselesaikan secara internal justru mencuat ke publik. "Sebaiknya hal-hal seperti itu dibahas di internal terlebih dahulu sebelum disampaikan ke media," katanya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kepulauan Riau, Dr. Lagat Parroha Patar Siadari, menilai mundurnya PT Wika sebagai kontraktor utama berdampak besar terhadap kelanjutan proyek Terminal 2. Ia menilai, tanggung jawab atas kelancaran proyek tidak hanya berada di PT BIB, tetapi juga pada BP Batam sebagai otoritas yang memberi mandat pengelolaan.

"Kalau Wika mundur, tentu memengaruhi perjanjian antara BP Batam dan BIB. Sebab, BIB merupakan perpanjangan tangan BP Batam dalam pengembangan kawasan bandara," ujarnya di Batam, Jumat (7/11/2025).

Lagat juga menyoroti minimnya transparansi kontrak kerja sama antara BP Batam dan BIB. Ia menilai publik perlu mengetahui isi perjanjian tersebut agar akuntabilitas kedua pihak tetap terjaga.

"Apakah ada konsekuensi hukum atau finansial dari kegagalan proyek ini? Kita tidak tahu, karena kontraknya tidak pernah dipublikasikan," tegasnya.

Proyek Terminal 2 Hang Nadim merupakan bagian dari visi besar modernisasi fasilitas udara Batam yang telah dicanangkan sejak awal kepemimpinan Muhammad Rudi di BP Batam. Pemerintah bahkan telah mengucurkan ratusan miliar rupiah untuk memperlebar akses jalan menuju bandara menjadi lima lajur.

"Jika Terminal 2 gagal dibangun, maka investasi besar yang sudah digelontorkan menjadi sia-sia. BP Batam harus ikut bertanggung jawab dan membantu BIB mencari solusi," ujar Lagat.

Dengan kondisi tersebut, publik kini menantikan langkah konkret BP Batam untuk mempercepat penyelesaian proyek Terminal 2. Di tengah tantangan konsorsium dan sorotan publik, keberhasilan proyek ini akan menjadi tolak ukur efisiensi dan kredibilitas BP Batam sebagai pengelola kawasan strategis nasional.

Editor: Gokli