Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Udang Indonesia Kembali Tembus Pasar Amerika, Badan Mutu KKP Sebagai Lembaga Sertifikasi Radiasi Resmi
Oleh : Redaksi
Selasa | 11-11-2025 | 10:48 WIB
udang-RI.jpg Honda-Batam
Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini (tengah), dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11/2025). (KKP)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia memastikan produk udang nasional kembali diterima di pasar Amerika Serikat, setelah U.S. Food and Drug Administration (FDA) secara resmi menetapkan Badan Mutu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai Certifying Entity (CE) untuk sertifikasi bebas Cesium-137 (Cs-137).

Penetapan ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang mendapatkan mandat sertifikasi radiasi pada sektor perikanan. Langkah tersebut menandai pergeseran besar dari pendekatan reaktif terhadap krisis menjadi negara penetap standar global (standard-setting nation).

Mulai 31 Oktober 2025, skema sertifikasi bebas Cs-137 resmi diterapkan secara penuh. Dalam pelaksanaannya, KKP bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Bea Cukai telah melepas ekspor perdana ke Amerika Serikat sebanyak tujuh kontainer udang dengan volume 106 ton senilai USD 1,22 juta atau sekitar Rp 20,14 miliar. Seluruh pengiriman telah memenuhi ketentuan Yellow List dan dinyatakan bebas kontaminasi Cs-137 setelah melewati pemeriksaan Radiation Portal Monitor (RPM).

"Udang Indonesia tetap diminati pasar Amerika. Kami akan terus memperketat pengendalian mutu. Target kami, pada November ini lebih dari 200 kontainer udang bisa diekspor dengan status bebas Cesium," ujar Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto Darwin, menegaskan bahwa pemerintah bergerak cepat menangani temuan radioaktif Cs-137 pada komoditas ekspor Indonesia.

Menurutnya, KKP bersama sejumlah kementerian dan lembaga lintas sektor langsung melakukan audit lapangan, pembaruan prosedur operasional, hingga penguatan laboratorium pengujian. "Dalam kasus ini terbukti negara hadir dan bertindak cepat. Dalam hitungan hari, tim lintas lembaga --mulai dari KKP, BAPETEN, KLHK, hingga otoritas AS-- bekerja sama, membuka data, memperbaiki SOP, dan memperkuat fasilitas laboratorium. Dalam waktu dua hingga tiga bulan, Indonesia berhasil kembali menembus pasar AS dengan mekanisme sertifikasi yang diakui FDA," jelas Doni.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut bukan hanya soal pemulihan ekspor, tetapi juga menjadi bukti bahwa infrastruktur mutu Indonesia sudah responsif, transparan, dan dipercaya secara global.

Berdasarkan data KKP, udang masih menjadi komoditas utama ekspor produk perikanan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,39 miliar sepanjang Januari-September 2025. Komoditas lain yang juga berkontribusi besar adalah Tuna-Cakalang-Tongkol (USD 763,51 juta), Cumi-Sotong-Gurita (USD 574,75 juta), Rajungan-Kepiting (USD 377,65 juta), dan Rumput Laut (USD 233,86 juta).

Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama ekspor udang Indonesia, dengan pangsa 63,1 persen dari total ekspor nasional. Sepanjang Januari-September 2025, ekspor ke AS bahkan tumbuh 16,3 persen (year-on-year), sementara pada September 2025 naik 16,6 persen dibanding Agustus 2025.

"Peningkatan ekspor ini membuktikan pemulihan berjalan cepat dan efektif. Sampai triwulan III, ekspor udang terus menunjukkan tren positif," ujar Direktur Pemberdayaan Usaha PDSPKP, Catur Sarwanto.

Dari sisi produksi, KKP terus mengawal mutu udang sejak di tingkat pembudidaya. Direktur Ikan Air Payau dan Udang Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Fernando Jongguran Simanjuntak, menyebut pengawasan dilakukan melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di seluruh daerah sentra tambak.

"Kami hadir di tengah-tengah petambak untuk memastikan penerapan CBIB berjalan konsisten. Pengendalian mutu bukan hanya soal keamanan pangan, tapi juga keberlanjutan lingkungan. Udang Indonesia harus tetap menjadi produk dengan kualitas terbaik," kata Fernando.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa temuan Cs-137 pada Juli 2025 merupakan kasus lokal spesifik (site-specific contamination) di fasilitas PT BMS Cikande, Serang, dan tidak berasal dari tambak, hatchery, maupun sistem budidaya nasional.

Ia menjelaskan, nilai deteksi sekitar 68 Bq/kg yang dilaporkan FDA jauh di bawah ambang batas Derived Intervention Level (1.200 Bq/kg). Pemerintah memilih mengambil langkah "zero compromise" dengan mengedepankan data ilmiah dan kontrol resmi yang dapat diverifikasi, alih-alih melakukan pembelaan verbal.

"Kami tidak berdebat, tapi membuktikan dengan data, sains, dan sistem kontrol resmi yang dapat diuji secara internasional," tegas Trenggono.

Penetapan Indonesia sebagai Certifying Entity resmi FDA menjadi tonggak penting dalam diplomasi mutu global. Selain mengembalikan akses pasar udang ke Amerika Serikat, pencapaian ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin baru dalam penetapan standar mutu dan keamanan pangan laut internasional.

Editor: Gokli