Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dominasi Investasi Lokal Tunjukkan Kepercayaan Pengusaha Dalam Negeri terhadap Iklim Usaha Batam
Oleh : Aldy Daeng
Senin | 10-11-2025 | 15:28 WIB
amsakar-PMDN.jpg Honda-Batam
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa penurunan investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam tidak perlu dipandang negatif. Menurutnya, meningkatnya dominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menandakan tumbuhnya kepercayaan pengusaha lokal terhadap stabilitas dan prospek ekonomi Batam.

Berdasarkan data BP Batam, hingga September 2025 realisasi investasi di Batam mencapai Rp 54,7 triliun atau 91 persen dari target tahunan Rp 60 triliun. Dari total tersebut, kontribusi terbesar berasal dari investasi domestik.

Sementara untuk kuartal pertama 2025 di Provinsi Kepulauan Riau --yang sebagian besar ditopang oleh Batam-- nilai PMDN tercatat Rp 3,69 triliun, naik 79,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan investasi PMA mencapai US$ 595,65 juta.

Amsakar menilai, perubahan komposisi investasi ini merupakan dinamika ekonomi yang wajar. Ia menekankan bahwa baik PMA maupun PMDN sama-sama memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

"Tak ada masalah dengan penurunan PMA. Semua investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di Batam," ujarnya saat ditemui di Gedung BP Batam, Senin (10/11/2025).

Lebih lanjut, Amsakar menyebut peningkatan PMDN menjadi sinyal kuat kepercayaan pelaku usaha dalam negeri terhadap kebijakan pemerintah dan reformasi birokrasi yang dijalankan BP Batam. "Kami melihat tren ini sebagai tanda positif. Pengusaha lokal semakin percaya diri menanamkan modalnya di Batam. Ini bukti bahwa Batam tetap menarik, bukan hanya bagi investor asing, tapi juga bagi investor domestik," jelasnya.

Meski berbagai fasilitas fiskal di Kawasan Perdagangan Bebas Batam, seperti pembebasan bea masuk dan kemudahan ekspor-impor, umumnya ditujukan bagi investor asing, Amsakar menegaskan bahwa BP Batam memperlakukan seluruh investor secara setara.

"Konsep kawasan memang mendorong investasi asing, tapi kalau pengusaha dalam negeri kita kuat, tentu itu hal baik. Tak ada dikotomi antara PMA dan PMDN, keduanya saling memperkuat fondasi ekonomi Batam," tegasnya.

Menanggapi anggapan publik bahwa turunnya PMA disebabkan penutupan kantor cabang BP Batam di luar negeri, Amsakar membantah hal tersebut. Ia menjelaskan, promosi investasi kini beralih ke pendekatan digital dan kolaborasi lintas lembaga.

"Era sekarang sudah digital. Kantor di luar negeri bukan satu-satunya cara menarik investasi. Banyak kanal promosi yang bisa dimanfaatkan, mulai dari platform digital hingga forum bisnis dan kerja sama antar-pemerintah," ujarnya.

Amsakar menambahkan, BP Batam saat ini berfokus memperluas jejaring promosi global melalui strategi komunikasi modern berbasis teknologi. "Kami akan memperkuat komunikasi internasional, memperluas jaringan global, dan memastikan iklim usaha di Batam tetap kondusif bagi seluruh investor," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa fokus utama BP Batam bukan hanya pada besaran investasi yang masuk, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan investasi. Setiap proyek diharapkan membawa nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat sektor-sektor produktif daerah.

Menurutnya, langkah BP Batam menjaga keseimbangan antara PMA dan PMDN menjadi cerminan kematangan arah pembangunan ekonomi Batam. "Yang kita jaga adalah keseimbangan. PMA tetap penting, tapi jika PMDN tumbuh kuat, ekonomi Batam akan lebih tangguh menghadapi gejolak global. Yang utama, investasi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah," pungkasnya.

Editor: Gokli