Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

FSP BUMN Bersatu Dukung Soeharto Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
Oleh : Redaksi
Sabtu | 08-11-2025 | 08:48 WIB
1011_bumun-Djusmani-Umar-2025.jpg Honda-Batam
Ketua Harian FSP BUMN Bersatu Djusman Hi Umar. (Foto: istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu menyatakan dukungannya agar mantan Presiden RI ke-2, Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, Arief Poyuono, bersama Ketua Harian Djusman Hi Umar, dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis (7/11/2025).

Menurut Arief, Soeharto bukan hanya layak menyandang gelar Jenderal Besar, tetapi juga pantas ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berkat dedikasi dan pengabdiannya terhadap bangsa dan negara.

"Mantan Presiden Soeharto tidak hanya dikenal sebagai prajurit sejati tanpa cacat, tetapi juga sebagai tokoh yang berjuang sepenuhnya untuk kepentingan bangsa Indonesia," ujar Arief.

FSP BUMN Bersatu menilai, kiprah Soeharto di dunia militer sudah teruji sejak peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Aksi yang direncanakan secara matang oleh jajaran militer Divisi III/GM III itu, dengan melibatkan unsur pemerintahan sipil setempat atas instruksi Panglima Besar Jenderal Sudirman, berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada dan tidak menyerah pada Belanda.

Selain itu, pada tahun 1962, Soeharto juga dipercaya memimpin Komando Mandala dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berbagai peran penting tersebut dinilai sebagai bukti nyata kontribusi Soeharto dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia.

"Cara pandang sejarah terhadap Soeharto tidak bisa hitam putih. Sebagai pahlawan nasional, kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah, namun juga tidak bisa mengabaikan jasa dan kontribusinya," tambah Djusman.

FSP BUMN Bersatu menegaskan, jasa Soeharto tidak hanya dalam bidang militer, tetapi juga dalam pembangunan ekonomi nasional. Salah satunya melalui program transmigrasi yang sukses memindahkan jutaan penduduk dari Jawa, Bali, dan Lombok ke berbagai wilayah lain, lengkap dengan fasilitas dasar seperti rumah, sekolah, puskesmas, lahan, dan jalan. Program tersebut dinilai berhasil mempercepat pemerataan pembangunan dan memperkuat integrasi nasional.

Program lainnya yang juga menjadi warisan besar Soeharto adalah Sekolah Dasar (SD) Inpres. Dalam kurun waktu lima tahun, lebih dari 61.000 SD Inpres berhasil dibangun, meningkatkan angka partisipasi sekolah dasar dari 69% menjadi 90%, serta menurunkan angka buta huruf secara signifikan hingga 15,8% pada 1990. Hingga tahun 1994, total hampir 150.000 SD dibangun dengan lebih dari satu juta guru ditempatkan di seluruh Indonesia. Program ini bahkan mendapat pengakuan internasional dari UNESCO pada 19 Juni 1993.

"Melihat jejak perjuangan dan pengabdian beliau, jelas Soeharto berkontribusi besar bagi bangsa, baik sebagai prajurit maupun pemimpin. Beliau tidak pernah mengkhianati negara dan layak mendapat gelar Pahlawan Nasional," tegas Arief Poyuono.

Editor: Gokli