Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bahasa Indonesia Resmi Bergema di UNESCO, Momen Bersejarah Diplomasi RI di Samarkand
Oleh : Redaksi
Rabu | 05-11-2025 | 11:08 WIB
Mendikdasmen2.jpg Honda-Batam
Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu'ti, menyampaikan pidatonya dalam Bahasa Indonesia di hadapan para delegasi dunia, pada Sidang Umum ke-43 UNESCO, Senin (4/11/2025). (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Untuk pertama kalinya dalam sejarah diplomasi Indonesia, Bahasa Indonesia resmi digunakan dalam penyampaian National Statement pada Sidang Umum ke-43 UNESCO, Senin (4/11/2025).

Momen bersejarah ini menjadi tonggak penting yang menegaskan posisi Bahasa Indonesia di panggung dunia, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi kebudayaan global.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof Dr Abdul Mu'ti, menyampaikan pidatonya sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia di hadapan para delegasi dunia. Penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Sidang Umum UNESCO ke-42 pada November 2023 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 di forum internasional tersebut.

Dengan demikian, Bahasa Indonesia kini bersanding dengan sembilan bahasa utama dunia lainnya, yakni Arab, Mandarin, Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia (enam bahasa resmi PBB), serta Hindi, Italia, dan Portugis.

Dalam pernyataannya, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya peran UNESCO sebagai penjuru etika global untuk menjaga perdamaian dan kemajuan peradaban dunia. Ia menyerukan agar komunitas internasional lebih aktif melindungi pelajar, guru, jurnalis, dan relawan kemanusiaan yang menjadi korban konflik, khususnya di Gaza, di mana fasilitas pendidikan dan kebudayaan tengah mengalami kehancuran.

"UNESCO harus menjadi garda etika dunia --mendorong pengetahuan, perdamaian, dan keadilan bagi seluruh umat manusia," tegas Abdul Mu'ti dalam pidatonya.

Selain menyerukan solidaritas global, Mendikdasmen juga memaparkan kemajuan Indonesia dalam sektor pendidikan sebagai wujud nyata kontribusi terhadap agenda pembangunan berkelanjutan UNESCO. Ia menyoroti tiga fokus utama transformasi pendidikan nasional, yaitu:

  • Program Deep Learning, untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif pada siswa.
  • Sekolah Rakyat dan Program Makanan Bergizi Gratis, guna memperluas akses pendidikan yang merata dan inklusif.
  • Peningkatan kapasitas guru, agar pembelajaran di sekolah semakin adaptif terhadap tantangan global.

Momen bersejarah di Samarkand ini bukan sekadar pengakuan linguistik, tetapi juga simbol penguatan diplomasi kebudayaan Indonesia di kancah dunia. Melalui forum UNESCO, Indonesia menegaskan komitmennya terhadap nilai kemanusiaan, perdamaian, dan keberlanjutan global.

Delegasi Tetap RI untuk UNESCO sekaligus Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Prancis, Andorra, dan Monako, Mohammad Oemar, yang turut mendampingi Mendikdasmen, menyampaikan bahwa kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk menyatakan pencalonan Indonesia sebagai anggota Komite Antar-Pemerintah Konvensi 2003 tentang Warisan Budaya Takbenda untuk periode 2026.

Menurut Oemar, Sidang Umum UNESCO di Samarkand bukan hanya ajang seremonial diplomasi, melainkan momentum memperkuat komitmen Indonesia terhadap nilai pengetahuan terbuka, kebudayaan inklusif, dan teknologi beretika. "Ini bukan sekadar pengakuan formal, tetapi pernyataan komitmen bahwa pengetahuan terbuka, kebudayaan inklusif, dan teknologi beretika harus menjadi pendorong kemajuan yang adil bagi semua," ungkapnya.

Penggunaan Bahasa Indonesia dalam forum resmi UNESCO menjadi bukti nyata pengaruh diplomasi kebahasaan dan kebudayaan Indonesia di tingkat global. Dari Samarkand, suara Indonesia kini bergema lebih luas --membawa semangat perdamaian, kemanusiaan, dan kemajuan melalui kekuatan bahasa dan pendidikan.

Editor: Gokli