Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Maltodekstrin dalam Susu Formula, Gula Tambahan atau Justru Sumber Serat?
Oleh : Rerdaksi/Alex RS
Selasa | 04-11-2025 | 10:08 WIB
0411_Maltodekstrin-susu-formula_2025.jpg Honda-Batam
Istilah

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Saat membaca label makanan, mungkin kamu sering menemukan istilah "maltodekstrin" di daftar bahan. Namanya memang terdengar kimiawi, namun sebenarnya bahan ini sangat umum ditemukan pada berbagai produk pangan, mulai dari sereal, saus salad, hingga susu formula anak.

Lantas, apa sebenarnya maltodekstrin itu? Apakah termasuk gula tambahan, atau justru bisa berfungsi sebagai sumber serat?

Menurut penjelasan para ahli, maltodekstrin merupakan karbohidrat olahan yang berasal dari pati jagung, kentang, gandum, atau tapioka. Proses pembuatannya disebut hidrolisis, yakni pemecahan pati menjadi rantai pendek molekul gula. Hasil akhirnya berupa bubuk putih tanpa rasa manis yang berfungsi menambah tekstur dan membantu bahan mudah larut dalam makanan maupun minuman.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan maltodekstrin sebagai bahan yang aman digunakan dalam makanan (GRAS – Generally Recognized as Safe). Tak hanya berperan sebagai pengisi, maltodekstrin juga digunakan sebagai penstabil, pengental, hingga pengganti gula dan lemak dalam produk olahan.

Ahli gizi dr. Rosyanne Kushardina, S.Gz., M.Si., dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta menjelaskan, maltodekstrin merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang aman dan berasal dari bahan alami.

"BTP seperti maltodekstrin ditambahkan secara sengaja untuk tujuan teknologi pangan, agar menghasilkan karakteristik tertentu atau memperbaiki tekstur dan kestabilan produk," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (3/11/2025).

Dalam Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019, maltodekstrin termasuk bahan tambahan yang multifungsi --bisa berperan sebagai pengawet, penguat rasa, filler (peningkat volume), penstabil, hingga perisa. Selain itu, maltodekstrin juga kerap dijadikan pengganti laktosa pada produk susu bagi mereka yang mengalami intoleransi laktosa.

Secara alami, maltodekstrin tidak ditemukan dalam bahan mentah, namun diolah dari sumber karbohidrat seperti umbi-umbian, serealia, dan jagung. Menariknya, meski tersusun dari molekul gula, maltodekstrin hampir tidak memiliki rasa manis. Tingkat kemanisannya diukur dengan nilai Dextrose Equivalent (DE); semakin rendah nilainya, semakin tidak manis.

"Maltodekstrin dengan DE 10 biasa digunakan untuk saus dan produk diet, DE 15 untuk minuman isotonik, sedangkan DE 19 cocok untuk produk susu atau dessert," jelas dr. Rosyanne.

Terkait isu yang ramai di media sosial mengenai maltodekstrin yang disebut bisa meningkatkan kadar gula atau memicu gangguan ginjal pada anak, dr. Rosyanne menegaskan hal tersebut tidak benar.

"Maltodekstrin dalam susu tidak otomatis membuat kandungan gulanya lebih tinggi. Informasi itu bisa dicek langsung pada label kemasan," tegasnya.

Faktanya, maltodekstrin juga terdapat pada berbagai jenis makanan lain, termasuk produk gurih seperti kaldu ayam dan jamur.

Tak hanya itu, penelitian menunjukkan ada jenis resistant maltodextrin yang berperan seperti serat pangan (dietary fiber). Jenis ini bisa difermentasi di usus besar menjadi short chain fatty acid (SCFA) yang bermanfaat bagi kesehatan mikrobiota usus dan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Riset oleh Kishimoto et al. (2006) menyebut resistant maltodextrin dapat meningkatkan jumlah bakteri baik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus, serta menurunkan kadar gula dan kolesterol darah. Studi lain oleh Okuma & Matsuda (2002) juga menegaskan serat ini aman dan bisa digunakan sebagai serat fungsional dalam makanan.

Karena itu, tidak heran jika beberapa susu formula dan susu pertumbuhan kini mencantumkan bahan “Resistant Maltodextrin (Serat Pangan)” dalam labelnya. Tujuannya adalah menambah asupan serat dan mendukung kesehatan saluran cerna anak, terutama bagi yang kurang konsumsi sayur dan buah.

Menurut Jurnal Gizi Klinik Indonesia (2020), penambahan serat seperti resistant maltodextrin dalam susu anak dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus serta mendukung daya tahan tubuh.

Kesimpulannya, maltodekstrin bukanlah gula berbahaya, melainkan bahan pangan yang aman dan multifungsi. Dalam bentuk biasa, ia menjadi sumber energi tambahan, sementara dalam bentuk resistant maltodextrin justru memberi manfaat serat bagi pencernaan.

Kuncinya ada pada pemahaman jenis dan takarannya. Dengan membaca label secara cermat, masyarakat dapat memilih produk sesuai kebutuhan tanpa perlu khawatir berlebihan.

Editor: Gokli