Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ikan Asam Pedas Cabai Kering, Inovasi Kuliner BI Kepri untuk Kendalikan Harga Pangan
Oleh : Aldy Daeng
Sabtu | 25-10-2025 | 13:08 WIB
AR-BTD-4788-BI-Kepri.jpg Honda-Batam
Pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bersama Hotel Santika Batam, Jumat (24/10/2025). (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Masakan ikan asam pedas dengan cabai kering bukan sekadar kuliner tradisional khas Melayu, tetapi kini menjadi simbol inovasi dalam pengendalian harga pangan.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bersama Hotel Santika Batam, Jumat (24/10/2025).

Kegiatan bertajuk Masak Besar dan Terbanyak Ikan Asam Pedas Menggunakan Cabai Kering ini berhasil mencatatkan rekor MURI dengan 1.118 porsi ikan asam pedas tongkol. Acara tersebut dihadiri Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Said Sudrajad; perwakilan Dinas Pariwisata dan Dinas Ketahanan Pangan, serta Andar, perwakilan dari MURI.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Melalui kegiatan ini, BI ingin menunjukkan bahwa inovasi kuliner juga bisa berperan dalam menjaga kestabilan harga pangan dan memperkuat komunikasi publik tentang pentingnya konsumsi produk olahan lokal.

"Masakan ikan asam pedas dengan cabai kering ini bukan sekadar kuliner, tetapi simbol inovasi dalam pengendalian harga pangan," ujar Ardhienus.

Ia menjelaskan, kondisi ekonomi Kepri saat ini menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan II tahun 2025, ekonomi Kepri tumbuh 7,14 persen (yoy), naik dari 5,16 persen pada triwulan sebelumnya dan melampaui rata-rata nasional 5,12 persen. Sementara itu, inflasi pada September 2025 tercatat 0,64 persen (mtm) atau 2,70 persen (yoy), mencerminkan sinergi efektif antara BI, pemerintah daerah, dan TPID se-Kepri dalam menjaga kestabilan harga.

Menurut Ardhienus, fluktuasi harga cabai selama ini menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar di daerah. Pasokan yang tidak stabil membuat harga mudah melonjak atau anjlok. Karena itu, inovasi penggunaan cabai kering dinilai menjadi solusi jangka panjang.

"Cabai kering punya masa simpan lebih lama dan harga yang lebih stabil. Selain jadi alternatif cabai segar, penggunaannya juga membantu menjaga pasokan dan menekan inflasi," jelasnya.

Pemilihan ikan asam pedas sebagai menu utama juga dianggap tepat karena mencerminkan identitas budaya masyarakat pesisir Kepri yang 96 persen wilayahnya terdiri dari laut. Selain itu, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penerbitan buku "Khazanah Masakan Khas Melayu Menggunakan Cabai Kering" hasil kolaborasi BI Kepri dan Batam Tourism Polytechnic pada 2024.

Selain memecahkan rekor, kegiatan ini menjadi bagian dari Pekan Rasa Melayu, sebuah ajang yang bertujuan mempromosikan potensi kuliner khas Kepri sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus penguatan ketahanan pangan.

"Kami berharap kampanye cabai kering ini bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih bijak dalam konsumsi pangan. Dari Kepri, kita kobarkan semangat inovasi demi inflasi terkendali dan masyarakat sejahtera," tutup Ardhienus.

Sementara itu, Senior Customer Relation Manager MURI, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa rekor ini sah dan memenuhi kategori kuliner massal yang dapat dikonsumsi. "Untuk rekor kuliner massal, minimal seribu porsi dan seluruh makanan harus bisa dimakan. Asam pedas khas Kepri ini menjadi yang pertama tercatat di Indonesia, dengan total 1.118 porsi," ungkapnya.

Rekor tersebut menambah daftar panjang prestasi kuliner khas Kepri setelah sebelumnya Luti Gendang dan ikan bilis juga masuk dalam daftar rekor MURI.

Editor: Gokli