Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Komitmen Ekonomi Mandiri, Berdaulat dan Maju di HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia
Oleh : Roni Ginting
Senin | 06-10-2025 | 18:48 WIB
bursa-efek-indonesia112.jpg Honda-Batam
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Empat puluh delapan tahun setelah diaktifkan kembali, pasar modal Indonesia telah menjelma menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional. Perkembangannya tidak hanya tercermin dari angka-angka yang memecahkan rekor, tetapi juga dari semakin luasnya jangkauan edukasi, keterlibatan masyarakat, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi yang mandiri, berdaulat, dan maju.

Tahun 2025 menjadi saksi pencapaian luar biasa. Kapitalisasi pasar saham menyentuh rekor tertinggi Rp 14.315 triliun pada 14 Agustus 2025. Rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 13,56 triliun dengan volume harian 22 miliar lembar saham dan frekuensi harian sekitar 1,29 juta kali transaksi. Rekor penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertinggi dicapai pada 14 Agustus 2025 berada di level 7.931,251.

Dengan pencapaian ini, pasar modal Indonesia menempati peringkat ke-17 dunia dalam nilai kapitalisasi pasar dan peringkat ke-2 di ASEAN dari jumlah perusahaan tercatat. Keberhasilan ini menandakan kepercayaan investor yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Tidak hanya pasar saham, instrumen derivatif pun mencatat sejarah baru. Pada 14 Agustus 2025, volume transaksi derivatif mencapai 9.214 kontrak atau naik 404% dibanding akhir 2024. Lonjakan ini menunjukkan semakin besarnya minat investor terhadap instrumen lindung nilai (hedging) dan strategi perdagangan yang lebih kompleks.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama tiga Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merayakan HUT ke-48 dengan tema "Mewujudkan Ekonomi Mandiri, Berdaulat, dan Maju Bersama." Acara diawali dengan seremoni pembukaan perdagangan di Main Hall BEI yang dilanjutkan konferensi pers. Momen ini menjadi ajang peluncuran berbagai inisiatif strategis, termasuk pemberian lisensi perdana Liquidity Provider Saham kepada PT Phintraco Sekuritas.

Peran liquidity provider diharapkan memperkecil bid-ask spread dan meningkatkan kelancaran perdagangan saham berlikuiditas rendah. Pada kesempatan yang sama, BEI mengumumkan partisipasi efek reksa dana dalam layanan Pinjam Meminjam Efek (PME), yang akan memperbanyak ketersediaan saham untuk dipinjam, mendukung strategi seperti short selling, margin trading, dan hedging, sekaligus memberi peluang pendapatan tambahan bagi pemilik efek atau lender.

Peringatan tahun ini tidak hanya fokus pada perdagangan, tetapi juga pada edukasi dan tanggung jawab sosial. Salah satu program unggulan adalah Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif untuk mendukung pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak di daerah. Program ini berjalan beriringan dengan Program Edukasi 30.000 Mahasiswa dan Kampus Penggerak Literasi dan Inklusi Pasar Modal yang menjadi bagian dari Sekolah Pasar Modal untuk Negeri.

Untuk menarik partisipasi generasi muda, diselenggarakan pula Virtual Trading Competition 2025 melalui aplikasi IDX Mobile, yang memberi kesempatan mahasiswa dan pelajar merasakan pengalaman simulasi perdagangan saham secara langsung. Keseruan perayaan bertambah dengan Capital Market Run, lomba lari terbuka untuk publik sebagai sarana sosialisasi pasar modal secara ringan dan menyenangkan.

Rangkaian peringatan ini juga mencakup kegiatan tahunan seperti Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT), Capital Market Summit & Expo (CMSE), Public Expose Live, kompetisi jurnalistik dan fotografi, hingga ajang CEO Networking. Melengkapi kontribusi sosialnya, SRO mengalokasikan dana sebesar Rp 2,4 miliar dari pendapatan transaksi dan jasa kustodian untuk program tanggung jawab sosial perusahaan, yang meliputi pembangunan infrastruktur kesehatan, penanganan stunting, bantuan pendidikan, dan donor darah.

Selama tahun 2025, BEI meluncurkan berbagai inisiatif strategis, mulai dari perdagangan karbon internasional pada Januari, peluncuran Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA), SPPA Repo, dan Waran Terstruktur (Put Warrant), hingga penyesuaian ketentuan auto rejection dan trading halt. BEI juga memperluas underlying waran terstruktur dan SSF (Single Stock Futures), serta menyediakan infrastruktur liquidity provider saham.

Dari sisi pencatatan, BEI menambah 22 saham baru, 116 obligasi, 2 ETF, dan 288 seri Structured Warrant. Hingga 8 Agustus 2025, jumlah perusahaan tercatat mencapai 954 dengan total dana hasil IPO sebesar Rp 10,39 triliun. Berdasarkan data Single Investor Identification (SID), jumlah investor pasar modal mencapai 17,59 juta, naik 2,7 juta dari tahun sebelumnya, dengan 7,5 juta di antaranya merupakan investor saham.

KPEI berperan menjaga kelancaran penyelesaian transaksi dengan mencatat efisiensi kliring sebesar 61,25 persen dari sisi nilai dan 61,58 persen dari sisi volume. Nilai transaksi Pinjam Meminjam Efek mencapai Rp 29,57 miliar, sementara Triparty Repo mencapai Rp 503,93 miliar dengan nilai outstanding Rp 515,28 miliar. Total agunan anggota kliring yang dikelola mencapai Rp37,67 triliun, sedangkan Dana Jaminan tercatat sebesar Rp 9,06 triliun.

Di segmen Pasar Uang dan Valuta Asing, nilai transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) selama 2025 mencapai US$1,7 miliar. KPEI juga meluncurkan produk baru seperti Foreign Index Future dan insentif haircut Triparty Repo, serta mempersiapkan layanan repo SBN, manajemen kolateral, Non-Centrally Cleared Derivative (NCCD), dan Overnight Index Swap (OIS).

Sementara itu, KSEI terus mengembangkan infrastruktur layanan penyimpanan dan penyelesaian efek. Inovasi yang dilakukan antara lain pengembangan CORES.KSEI, S-MULTIVEST untuk asuransi, dan K-CASH. KSEI juga memperluas kerja sama internasional, termasuk dengan National Settlement Depository dari Rusia. Jumlah investor yang tercatat di KSEI naik menjadi 17,59 juta dengan nilai aset di C-BEST sebesar Rp 8.927 triliun dan Asset Under Management di S-INVEST sebesar Rp 836,87 triliun.

Sepanjang 2025, KSEI memproses 4.727 aksi korporasi dengan nilai total Rp 407 triliun. Meski mayoritas investor masih terkonsentrasi di Jawa, pertumbuhan aset di Sumatra, Bali, dan Nusa Tenggara menunjukkan potensi pengembangan pasar modal di wilayah lain.

Dari seluruh pencapaian tersebut, terlihat jelas bahwa pasar modal Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli efek, tetapi juga menjadi motor penggerak inklusi keuangan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi nasional. Melalui inovasi produk, perluasan layanan, peningkatan literasi, serta komitmen terhadap tanggung jawab sosial, pasar modal Indonesia terus meneguhkan perannya dalam mewujudkan ekonomi yang mandiri, berdaulat, dan maju.

Editor: Yudha