Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BI Turunkan BI-Rate ke 4,75 Persen, Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Stabilitas Inflasi
Oleh : Aldy
Kamis | 18-09-2025 | 11:28 WIB
RDG-BI2.jpg Honda-Batam
Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 September 2025. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 September 2025.

Langkah ini ditempuh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan tetap menjaga inflasi dalam sasaran 2,5+/-1% serta stabilitas nilai tukar Rupiah.

Selain BI-Rate, BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 basis poin menjadi 3,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Keputusan ini selaras dengan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang ditempuh guna memperkuat likuiditas, mendorong kredit, serta mempercepat digitalisasi ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan langkah penurunan suku bunga dilakukan dengan penuh kehati-hatian. "Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, sekaligus memanfaatkan ruang kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Kami akan terus mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi guna menentukan arah kebijakan berikutnya," ujarnya, Rabu (17/9/2025).

Sejalan dengan itu, BI memperkuat strategi operasi moneter pro-pasar melalui penyesuaian struktur suku bunga instrumen, peningkatan likuiditas lewat pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta intervensi ganda untuk menstabilkan Rupiah. Kebijakan makroprudensial longgar turut diperkuat melalui insentif likuiditas kepada sektor prioritas, termasuk UMKM, pertanian, real estat, dan pariwisata.

BI juga melanjutkan langkah ekspansi digitalisasi sistem pembayaran dengan perluasan akseptasi QRIS, penguatan infrastruktur BI-FAST, serta kerja sama pembayaran lintas negara. Upaya ini didukung sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Perry menambahkan, kondisi inflasi domestik masih terkendali rendah. "Inflasi pada 2025 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5+/-1%. Hal ini menjadi dasar kuat bagi kami untuk menurunkan BI-Rate sekaligus menjaga daya beli masyarakat," katanya.

Dengan bauran kebijakan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2025 akan membaik dan secara keseluruhan tahun 2025 berada pada kisaran 4,6-5,4%.

Editor: Gokli