Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hulu Migas Dongkrak Ekonomi Kepri, Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 16-09-2025 | 12:48 WIB
kerja-hulu-migras.jpg Honda-Batam
Ilustrasi - Pekerja Hulu Migras. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Industri hulu minyak dan gas bumi (Migas) di Kepulauan Riau (Kepri) terbukti memberi dampak berlapis bagi perekonomian daerah. Tidak hanya menyumbang produksi energi nasional, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan industri penunjang, hingga meningkatkan pendapatan masyarakat di Natuna, Anambas, dan Batam.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C W Wicaksono, menegaskan hulu migas membawa multiplier effect nyata bagi Kepri. "Manfaat migas tidak berhenti di laut, tetapi menjalar ke daratan dalam bentuk lapangan kerja, geliat UMKM, hingga peningkatan daya beli masyarakat. Inilah multiplier effect sesungguhnya, ketika satu sektor menggerakkan sektor lain," ujarnya, dalam pernyataan resmi, Selasa (16/9/2025).

Data mencatat, ekonomi Kepri tumbuh stabil pada 2023 sebesar 5,20 persen, dan pada triwulan I 2025 kembali mencatatkan 5,16 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pendorong utama capaian tersebut ialah kebangkitan hulu migas, termasuk beroperasinya Lapangan Forel dan Terubuk pada Mei 2025 yang menambah kapasitas 30.000 BOEPD serta menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja, sebagian besar di galangan kapal Batam.

Di Anambas, keterlibatan putra daerah sebagai operator dan foreman di perusahaan migas menambah penghasilan rumah tangga serta memicu roda ekonomi lokal, mulai dari warung makan hingga jasa transportasi. Program pemberdayaan masyarakat juga digalakkan melalui beasiswa, pelatihan nelayan, pemberdayaan perempuan, serta pelatihan keterampilan tenaga kerja lokal.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, bahkan mendorong agar pendidikan migas masuk ke dalam agenda CSR. "Dengan pendidikan migas, anak-anak Kepri punya kesempatan lebih besar masuk ke industri strategis ini," tegasnya.

Dari sisi fiskal, Natuna menerima Dana Bagi Hasil (DBH) migas lebih dari Rp 185 miliar pada 2025, termasuk Rp 84 miliar yang berasal langsung dari sektor migas. Kepri juga mencatat tonggak sejarah dengan kepemilikan Participating Interest (PI) 10 persen di Blok Northwest Natuna melalui BUMD daerah.

Batam ikut merasakan efek ganda sebagai pusat industri penunjang migas. Pabrik pipa seamless pertama di Indonesia berdiri di kota ini dengan kapasitas produksi 30.000 ton per tahun, ditargetkan meningkat menjadi 70.000 ton pada akhir 2025. Galangan kapal Batam pun dipercaya mengonversi kapal tanker menjadi FPSO Marlin Natuna, seluruhnya dikerjakan tenaga kerja Indonesia.

"Industri migas di Kepri bukan hanya soal barel minyak atau kubik gas, melainkan tentang kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah, dan kemandirian bangsa. Jika dikelola berkelanjutan, multiplier effect ini akan terus tumbuh menjadi cerita positif dari Bumi Segantang Lada untuk Indonesia," tutup Wicaksono.

Editor: Gokli