Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pakar Tegaskan Galon Guna Ulang Aman, Isu BPA Dinilai Hanya Persaingan Usaha
Oleh : Redaksi
Selasa | 16-09-2025 | 09:08 WIB
galon-isi-ulang.jpg Honda-Batam
Galon polikarbonat (PC) aman sebagai kemasan pangan sekaligus ramah lingkungan. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Polemik bahaya Bisphenol A (BPA) dalam galon guna ulang kembali mencuat. Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memastikan penggunaan galon polikarbonat (PC) aman sebagai kemasan pangan sekaligus ramah lingkungan.

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Hamka (Uhamka), Hermawan Saputra, menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung isu bahaya BPA. "Dalam pembuatan galon itu sebenarnya efeknya sangat minimum dan sudah direkomendasikan aman menjadi alat kemas," ujarnya, dalam keterangan pers, Senin (15/9/2025).

Hermawan yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, tudingan bahwa galon guna ulang menyebabkan gangguan kesehatan tidak pernah terbukti. "Belum ada penelitian atau hasil kajian yang berkaitan dengan itu. Jadi rasanya isu itu hoaks," tegasnya.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira Hudhi atau Dr Tirta, menilai isu BPA digulirkan untuk kepentingan bisnis. "Narasi bahaya BPA ini dimainkan pihak tertentu untuk memonopoli pasar. Isu disebarkan untuk menakut-nakuti masyarakat agar beralih dari galon guna ulang ke galon sekali pakai," katanya.

Menurut Tirta, informasi soal BPA yang dipublikasikan hanya sepihak tanpa menjelaskan ambang batas aman kandungan BPA yang masih bisa ditoleransi tubuh. Ia juga menyoroti aturan pelabelan BPA yang berpotensi menguntungkan kelompok tertentu.

"Kebijakan harus dikeluarkan berdasarkan riset mendalam dan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan ujug-ujug," tambahnya.

Sementara itu, pakar persaingan usaha Universitas Sumatera Utara, Prof Ningrum Natasya Sirait, menilai regulasi pelabelan BPA sarat dengan kepentingan bisnis. "Isu ini masih pro kontra. Jadi jangan dipaksakan menjadi beban konsumen. Pertanyaannya, regulasi pelabelan BPA itu sebenarnya untuk kepentingan siapa?" ujarnya.

Ia menekankan, setiap regulasi yang meningkatkan biaya produksi, termasuk pelabelan BPA, pada akhirnya akan membebani industri dan konsumen.

Editor: Gokli