Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

KEK Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional, Investasi Tembus Rp 294,4 Triliun, Serap 187 Ribu Tenaga Kerja
Oleh : Redaksi
Rabu | 10-09-2025 | 15:28 WIB
Susiwijono.jpg Honda-Batam
Sesmenko Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, dalam konferensi pers bertajuk 'KEK sebagai Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi: Inspiring Growth, Leading Innovation', Selasa (9/9/2025). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus menunjukkan capaian signifikan bagi perekonomian nasional. Tidak hanya sebagai pusat investasi dan hilirisasi, KEK kini diposisikan sebagai instrumen strategis Indonesia untuk memperkuat daya saing global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menegaskan pengembangan KEK selaras dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045.

"Salah satu prioritas nasional kita adalah melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Ke depan, KEK akan terus kita dorong agar mampu memperkuat ekspor sekaligus substitusi impor," ujar Susiwijono dalam konferensi pers bertajuk 'KEK sebagai Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi: Inspiring Growth, Leading Innovation', Selasa (9/9/2025).

Secara kumulatif, realisasi investasi di KEK telah mencapai Rp 294,4 triliun, dengan tambahan Rp 40,48 triliun sepanjang semester pertama 2025. Sepanjang periode tersebut, KEK juga berhasil menyerap 28.094 tenaga kerja atau 56,4 persen dari target tahunan, sehingga total akumulasi tenaga kerja yang terserap mencapai 187.376 orang dari 442 pelaku usaha.

Di sektor hilirisasi, KEK Gresik menjadi sorotan dengan berdirinya pabrik smelter tembaga terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia, yang juga menghasilkan emas. KEK Kendal resmi menghadirkan pabrik anoda baterai berkapasitas 80 ribu ton per tahun untuk menopang produksi 1,5 juta mobil listrik. Sementara itu, KEK Sei Mangkei mencatat investasi Rp 6,5 triliun dengan nilai ekspor Rp 2,7 triliun pada 2024.

Tak hanya industri, pengembangan KEK juga menyasar sektor pendidikan. KEK Singhasari telah memulai perkuliahan bersama King's College London dengan target 750 mahasiswa hingga 2030. Queen Mary University of London pun dijadwalkan beroperasi pada 2026 dengan target 6 ribu mahasiswa. Melalui kerja sama Russell Group, ditargetkan 10 ribu mahasiswa akan berkuliah di kawasan ini.

Selain itu, KEK Nongsa berhasil menarik investasi Rp 5,8 triliun di bidang pusat data digital. Melalui skema Two Countries Twin Parks Indonesia–Tiongkok, KEK Industropolis Batang juga direncanakan menyerap investasi sebesar USD 3,6 miliar atau setara Rp 59,3 triliun.

Dari sektor kesehatan, KEK Sanur menghadirkan Bali International Hospital (BIH) dengan investasi Rp 4,42 triliun. Kehadiran fasilitas tersebut diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp86 triliun dari layanan kesehatan masyarakat yang selama ini banyak dilakukan di luar negeri.

Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menyampaikan rencana pelaksanaan forum internasional Indonesia Special Economic Zone Investment Summit and Awards (SEZ-ISA) 2025 pada 11-12 November mendatang di Jakarta.

"Kami berharap Indonesia SEZ-ISA 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi, menarik investasi baru, dan membuktikan bahwa KEK mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing," pungkas Rizal.

Forum tersebut diyakini akan memperkuat branding KEK Indonesia di mata dunia, menjalin kolaborasi lintas sektor, serta mempercepat realisasi investasi nasional. Langkah ini juga menjadi katalis menuju visi Indonesia Emas 2045 sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi global.

Editor: Gokli