Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

UMKM Indonesia Raup Transaksi Ekspor Rp 1,49 Triliun hingga Agustus 2025
Oleh : Redaksi
Selasa | 09-09-2025 | 13:48 WIB
Mendag-UMKM1.jpg Honda-Batam
Menteri Perdagangan, Budi Santoso,usai meresmikan Ekspor Center di Batam sebagai pusat pengembangan ekspor UMKM di wilayah Sumatera. (Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat transaksi business matching pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan pembeli luar negeri mencapai USD 90,90 juta atau setara Rp1,49 triliun sepanjang Januari-Agustus 2025. Angka ini terdiri atas purchase order (PO) USD 55,95 juta dan potensi transaksi USD 34,95 juta.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan capaian ini menjadi bukti bahwa produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. "Hasil transaksi UMKM senilai USD 90,90 juta hingga Agustus ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa produk UMKM kita mampu memenuhi kebutuhan dan standar pasar internasional," ujar Budi di Jakarta, Senin (8/9/2025).

Pada Agustus 2025 saja, transaksi yang tercatat melalui PO mencapai USD 861 ribu. Menurut Budi, pencapaian bulanan maupun kumulatif mencerminkan optimisme sekaligus meningkatnya minat pasar global terhadap produk UMKM Indonesia.

Selama delapan bulan, Kemendag telah menggelar 462 kegiatan business matching, terdiri atas 312 sesi presentasi dengan perwakilan perdagangan RI di luar negeri serta 150 pertemuan langsung dengan calon pembeli internasional. Sebanyak 110 UMKM dari berbagai sektor ikut serta, meliputi fesyen, kerajinan, furnitur, kopi, bambu, rempah, hingga makanan dan minuman olahan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Fajarini Puntodewi, menyebut capaian ini tidak lepas dari sinergi lintas lembaga. "Capaian ini membuktikan sinergi pemerintah dengan perwakilan perdagangan RI di luar negeri, lembaga pembina UMKM, dan pelaku usaha mampu meningkatkan daya saing UMKM di kancah internasional," kata Puntodewi.

Ia menambahkan, Kemendag akan terus memperkuat dukungan berbasis kebutuhan nyata bagi pelaku usaha, mulai dari sertifikasi, logistik, hingga akses pembiayaan. "Pendampingan yang berkesinambungan akan terus menjadi prioritas kami. Harapannya, transaksi yang semula bernilai ribuan dolar berkembang menjadi puluhan juta dolar dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.

Kemendag juga memberi perhatian pada pemberdayaan perempuan pelaku usaha dengan menyediakan ruang khusus bagi eksportir wanita. Business matching di Swiss, Hungaria, Inggris, dan Malaysia, misalnya, melibatkan 14 pelaku usaha perempuan dengan produk unggulan seperti batik, tekstil, serta makanan dan minuman.

"Langkah ini merupakan wujud nyata dukungan Kemendag terhadap peningkatan peran perempuan dalam perdagangan internasional. Kegiatan ini rutin dijadwalkan setiap akhir bulan," pungkas Puntodewi.

Editor: Gokli