Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

UMKM Binaan BI Kepri, dari Rp 100 Ribu Menembus Pasar Dunia

Kisah Rosmaini, Pengrajin Kripik Batam yang Ikut Pameran di Las Vegas hingga Dubai
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 09-09-2025 | 10:28 WIB
Rosmaini-Alesha_(1).jpg Honda-Batam
CV Narata Wira Utama, usaha yang dirintis Rosmaini Alesha, berhasil membawa keripik pisang khas Batam menembus pasar dunia. (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Di sebuah rumah sederhana bercat krem dan hijau di Kompleks Perumahan Sekawan, Batam, terpampang papan kayu bertuliskan CV Narata Wira Utama. Siapa sangka, bangunan tanpa kemewahan itu justru menjadi saksi perjalanan sebuah merek camilan lokal yang kini mampu melintasi batas negara, dari Singapura, Malaysia, hingga menapaki panggung pameran bergengsi dunia di Las Vegas dan Dubai.

Di balik cerita itu, berdirilah sosok Rosmaini Alesha, seorang ibu dua anak yang awalnya hanya berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak. Bukan pengusaha bermodal besar, melainkan perempuan sederhana asal Tapanuli Selatan, yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

"Awal mula saya buat kripik itu tahun 2010. Modal saya hanya Rp 100 ribu. Uang itu saya pakai membeli pisang dan peralatan sederhana. Dari situ lahirlah kripik pertama saya," tutur Rosmaini saat ditemui di rumah produksi Narata, Sabtu (6/9/2025).

Dari Dapur Rumah ke Warung Sekitar

Kripik pisang buatannya pertama kali ditawarkan kepada sesama guru di sekolah tempat ia mengajar, Maitreya Wira School. Tanpa strategi bisnis yang rumit, dagangan itu habis terjual dan memberinya omzet perdana Rp 300 ribu. Angka tersebut terasa luar biasa bagi Rosmaini yang baru saja mencoba peruntungan.

Proses pengemasan kripik produk CV Narata Wira Utama. (Foto: Aldy)

Dengan peralatan seadanya, ia menggoreng pisang di kompor rumah dan mengemasnya dalam plastik polos. Setiap akhir pekan, ia menitipkan produknya ke warung sekitar. Sedikit demi sedikit, lingkaran konsumen semakin luas.

"Setiap kali ada pertemuan kuliah atau kegiatan bersama teman, saya bawa kripik. Mereka selalu beli. Dari situ, semangat saya makin besar," kenang Rosmaini dengan mata berbinar.

Dari Green Snack ke Narata

Tahun 2011, Rosmaini memberi nama Green Snack pada produknya. Namun, kesulitan muncul ketika merek itu sulit dipatenkan. Ia pun beralih ke nama baru: Narata, yang resmi dipakai pada 2016. Bersamaan dengan itu, ia mulai melengkapi izin edar, sertifikasi halal, hingga memperbarui desain kemasan agar lebih modern.

Proses pemasangan barcode pada kemasan produk CV Narata Wira Utama. (Foto: Aldy)

Seiring perjalanan, omzet yang ia raih melebihi gajinya sebagai guru. Akhirnya, ia memutuskan meninggalkan profesi lamanya untuk fokus membangun usaha. "Ukuran keberhasilan bukan hanya omzet, tapi sejauh mana usaha ini bermanfaat. Sekarang saya bersama 14 karyawan yang bekerja penuh semangat," ungkapnya.

Filosofi Berbagi

Berbeda dengan banyak pelaku usaha lain, Rosmaini punya filosofi bahwa rezeki bukan untuk diperebutkan. Ia membuka ruang makloon: siapa pun bisa menjual produk Narata dengan merek sendiri. "Asal produksi tercantum jelas, mereka bebas menggunakan brand apa pun. Jadi tidak perlu mulai dari nol. Kita saling menopang," jelasnya.

Filosofi itu membuat Narata tidak sekadar merek camilan, melainkan gerakan sosial. Produk Narata kini hadir dengan barcode, kemasan modern, serta daya saing yang setara dengan produk industri besar.

Menembus Panggung Dunia

Lompatan besar terjadi pada 2022. Narata terpilih mewakili UMKM Batam dalam Winter Fancy Food Show (WFFS) di Las Vegas, Amerika Serikat. Produk yang lahir dari dapur sederhana itu mendampingi 72 UMKM nasional yang dipromosikan Bank Indonesia (BI).

"Saya tidak hadir langsung, tapi kebanggaannya luar biasa. Rasanya seperti mimpi, produk dari rumah sederhana bisa tampil di panggung dunia," ucap Rosmaini dengan suara bergetar.

Produk CV Narata Wira Utama ikut pameran di Las Vegas. (Istimewa)

Tak lama berselang, Narata kembali tampil dalam Expo 2020 Dubai. Bersama tim Javara dan Bank Indonesia, kripik Batam itu dipamerkan di ajang internasional. "Dubai Expo itu kesempatan emas. Meski saya tidak ikut hadir, saya bahagia produk ini bisa dikenal lebih luas," katanya.

Kini, produk Narata rutin dikirim ke Singapura dan Malaysia sebagai pasar utama ekspor.

WUBI, Jalan UMKM Kepri Naik Kelas

Kisah Rosmaini hanyalah satu dari ratusan UMKM Kepri yang tengah didorong untuk 'naik kelas' melalui program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI). Abdun Baskoro Cahyo, pengurus WUBI Kepri, menyebut saat ini ada 297 UMKM binaan BI yang bergerak di sektor makanan, fesyen, kriya, hingga perikanan.

"Pendampingan BI bukan hanya administratif, tapi meliputi tiga hal utama: penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan fasilitasi bisnis. Fokus kami kini pada ekspor," ujarnya.

Menurut Abdun, proses inkubasi ekspor dimulai dari kurasi produk, pengurusan legalitas, sertifikasi halal dan BPOM, hingga desain kemasan. UMKM terpilih kemudian mengikuti business matching dengan pembeli mancanegara. "Biasanya kami datangkan buyer dari Singapura dan Malaysia. Untuk kawasan lain, difasilitasi secara virtual," jelasnya.

Selain itu, BI juga mendorong digitalisasi. Melalui QRIS Cross Border, wisatawan Singapura dan Malaysia kini dapat langsung bertransaksi dengan UMKM Batam. "Ini peluang besar untuk meningkatkan omzet," tambah Abdun.

Gebyar Melayu Pesisir 2025

Semangat akselerasi ekspor semakin ditegaskan melalui Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 di One Batam Mall, Rabu (20/8/2025). Mengusung tema Akselerasi Ekspor Menuju Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan, pameran ini menghadirkan produk unggulan UMKM, wastra Melayu, hingga business matching senilai Rp 13 miliar.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menekankan posisi strategis Batam sebagai hub ekspor. "Kami ingin UMKM Kepri semakin percaya diri. BI hadir untuk mendukung agar produk mereka bernilai tambah tinggi dan tembus pasar internasional," tegasnya.

Asisten Gubernur BI, Doddy Zulverdi, menambahkan, ada tiga kunci agar UMKM mendunia: konsistensi, inovasi, dan sinergi. "Kalau kita konsisten, terus berinovasi, dan saling bersinergi, UMKM Kepri bisa mendunia," katanya.

Dukungan Pemerintah Daerah

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah daerah. Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyebut regulasi baru dalam PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025 membuka peluang besar bagi UMKM.

"Batam punya posisi strategis sebagai hub UMKM. Perizinan kini terintegrasi di Mal Pelayanan Publik, dan subsidi bunga nol persen harus benar-benar dimanfaatkan," ujarnya.

Produk CV Narata Wira Utama ikut pameran di Malaysia. (Istimewa)

Sebagai mantan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Amsakar mendorong koperasi agar berani masuk ke rantai pasok industri. "Koperasi jangan hanya simpan pinjam. Mereka bisa masuk ke distribusi LPG, sembako, bahkan bahan baku industri," jelasnya.

Menurut Amsakar, Batam bukan lagi sekadar kawasan industri, melainkan calon pusat ekspor UMKM nasional. "Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, dan SDM kreatif, Batam akan menjadi gerbang utama ekspor UMKM," pungkasnya.

Menjadi Inspirasi

Kisah Rosmaini membuktikan bahwa tekad, keberanian, dan filosofi berbagi dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang besar. Dari uang Rp 100 ribu, lahirlah merek Narata yang kini mendunia. Di sisi lain, dukungan Bank Indonesia, pemerintah, dan ekosistem UMKM menjadi energi penggerak percepatan ekspor.

Akselerasi ekspor bukan semata soal angka transaksi, melainkan upaya menuju kemandirian ekonomi berkelanjutan. Dari dapur sederhana Rosmaini hingga panggung internasional, Batam kini meneguhkan diri sebagai pusat lahirnya UMKM global.

Editor: Gokli