Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

PMI Manufaktur Indonesia Tembus 51,5

Industri Nasional Kembali Ekspansif dan Tangguh Hadapi Tantangan Global
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-09-2025 | 10:48 WIB
0209_menteri-perinduterian_2025.jpg Honda-Batam
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sektor manufaktur Indonesia kembali ke jalur ekspansi setelah lima bulan tertekan. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar 51,5, naik 2,3 poin dibandingkan Juli 2025 yang berada di level kontraksi 49,2. Capaian ini menandai pemulihan signifikan sekaligus bukti ketahanan industri nasional di tengah gejolak ekonomi global.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut lonjakan PMI menjadi sinyal kuat bahwa pelaku industri semakin percaya diri menjalankan usaha.

"Kami menyambut baik laporan PMI manufaktur Agustus yang menunjukkan pemulihan kinerja nasional. Peningkatan ini didorong oleh pesanan baru, baik domestik maupun ekspor, serta meningkatnya aktivitas produksi," kata Agus di Jakarta, Senin (1/9/2025).

Secara teknis, penguatan PMI ditopang melonjaknya pesanan baru dari 48,3 menjadi 52,3, termasuk kenaikan pesanan ekspor yang naik 2,8 poin ke level 51,2. Aktivitas produksi juga meningkat dari 49,0 menjadi 52,6, sehingga perusahaan menambah tenaga kerja dan memperbesar pembelian bahan baku.

Agus menegaskan, keberlanjutan tren positif industri manufaktur sangat ditentukan oleh stabilitas nasional. "Industri butuh kondisi kondusif. Situasi yang mengarah ke destabilisasi, makar, atau kerusuhan akan menurunkan optimisme pelaku industri," tegasnya.

Menurutnya, manufaktur berbeda dengan sektor lain karena melibatkan rantai ekosistem yang luas, mulai dari investasi, tenaga kerja, bahan baku, logistik, hingga energi. "Semua rantai ini harus dijaga agar optimisme tetap tumbuh," jelas Agus.

Ia menambahkan, Kemenperin tidak hanya mengacu pada PMI, tetapi juga Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang lebih representatif dengan melibatkan 2.500-3.000 perusahaan dari 23 subsektor. Pada Agustus 2025, IKI mencatat angka 53,55, meningkat dari 52,89 pada Juli.

PMI Indonesia bahkan berhasil melampaui sejumlah negara industri besar seperti Prancis, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Inggris. "Peningkatan ini menegaskan bahwa industri manufaktur kita tangguh dan tetap menjadi motor penggerak ekonomi nasional," tutur Agus.

Ia menekankan, pencapaian tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo yang menargetkan Indonesia menjadi negara industri yang kuat. "Kemenperin berkomitmen memperkuat daya saing industri melalui hilirisasi, peningkatan kualitas SDM, serta pemanfaatan teknologi. Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia siap menjadi kekuatan industri global," ujarnya.

Ke depan, Kemenperin akan mempercepat transformasi industri 4.0, mendorong industri hijau, memperkuat ekosistem IKM, dan mengembangkan kawasan industri berbasis teknologi. "Dengan hilirisasi dan inovasi, kami optimistis Indonesia akan berdiri sejajar bahkan unggul dibandingkan negara industri lainnya," pungkas Agus.

Editor: Gokli