Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pemimpin Desa Maluku Barat Daya Belajar Konservasi Penyu di Bali, WWF: Adat dan Kelestarian Bisa Berjalan Seiring
Oleh : Redaksi
Senin | 01-09-2025 | 10:28 WIB
belajar-penyu.jpg Honda-Batam
Tiga pemimpin desa dari Luang Barat dan Luang Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, mengikuti Sekolah Lapang Konservasi Penyu di TCEC Serangan, Bali, pada 24-25 Agustus 2025. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Bali - Tiga pemimpin desa dari Luang Barat dan Luang Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, mengikuti Sekolah Lapang Konservasi Penyu di Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan, Bali, pada 24-25 Agustus 2025.

Program yang difasilitasi WWF-Indonesia bersama Dinas Kelautan dan Perikanan GP XI ini bertujuan memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan Mdona Hiera, Lakor, Moa, dan Letti.

Perairan tersebut ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2022 karena memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk penyu, hiu, pari, hingga mamalia laut. Bahkan Pulau Moa telah diidentifikasi sebagai lokasi penting peneluran penyu.

"Konservasi sering disalahartikan hanya sebagai larangan. Padahal, tujuannya mengatur pemanfaatan sumber daya agar tetap lestari dan bisa dinikmati hingga anak cucu. Dibutuhkan langkah strategis dan kerja sama lintas pihak agar adat dan kelestarian bisa berjalan seiring," ujar Mohammad Budi Santosa, Project Leader Inner Banda Arch Seascape WWF-Indonesia, dalam keterangan pers, Jumat (29/8/2025).

Kepala Desa Luang Barat, Paulinus Yoseph Wolonter, mengaku mendapat perspektif baru setelah melihat praktik konservasi di TCEC. "Di Pulau Luang, daging penyu masih dipakai untuk syukuran, sedangkan di Bali hanya sebagai simbol. Di sinilah luar biasanya peran TCEC, kami bisa melihat perbedaan pendekatan konservasi," ungkapnya.

Senada, Kepala Desa Luang Timur, Anderson Leha, menekankan pentingnya menerapkan pengetahuan baru sepulang dari Bali. "Kami mendapat banyak pengalaman dan wawasan. Harapannya, ini bisa dikembangkan dan diterapkan secara bertahap sesuai kemampuan yang kami miliki," ujarnya.

Selama kegiatan, para pemimpin desa diajak mempelajari strategi edukasi masyarakat, penanganan penyu terdampar, hingga pengelolaan ekonomi berbasis konservasi. Mereka juga meninjau langsung sarana TCEC, mulai dari relokasi sarang, ruang perawatan penyu, hingga pantai peneluran.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum perubahan. Dengan bekal baru, para pemimpin desa dapat memperkuat perlindungan penyu sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut di Maluku Barat Daya.

Editor: Gokli