Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Reses Andi Mukhtar di Batam, Aspirasi Warga Mengalir dari Kredit Usaha hingga Kampung Seni
Oleh : Aldy
Kamis | 28-08-2025 | 15:28 WIB
reses-andi-muktar.jpg Honda-Batam
Warga menyampaikan beragam aspirasi kepada Anggota DPRD Provinsi Kepri, Andi Mukhtar, dalam agenda reses yang digelar di Perumahan Bida Garden dan Bida Kharisma, Rabu (27/8/2025) malam. (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Warga RW 37, Kelurahan Belian, menyampaikan beragam aspirasi kepada Anggota DPRD Provinsi Kepri, Andi Mukhtar, dalam agenda reses yang digelar di Perumahan Bida Garden dan Bida Kharisma, Rabu (27/8/2025) malam.

Mulai dari keluhan pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang lambat hingga gagasan menjadikan Kampung Seni Batam sebagai destinasi wisata budaya, semuanya mengemuka di forum penuh keakraban tersebut.

Ketua RW 37, Jupri Sayoga, mengapresiasi kehadiran legislator muda dari Fraksi Gerindra itu. Ia menilai forum semacam ini membuka ruang komunikasi dua arah antara warga dan wakil rakyat. "Terima kasih atas kepedulian Pak Andi. Kami berharap, aspirasi warga bisa ditampung dan diperjuangkan," ucap Jupri.

Dalam dialog, kelompok ibu-ibu menjadi pihak yang paling vokal. Mereka menyoroti sulitnya pencairan KUR yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan usaha kecil. "Pinjaman sudah ada, tapi pencairannya lambat. Padahal kami butuh modal cepat," keluh seorang ibu rumah tangga.

Menanggapi hal itu, Andi menjelaskan adanya fasilitas pinjaman tanpa agunan dari Pemko Batam sebesar Rp 20 juta dan KUR dari Pemprov Kepri hingga Rp 40 juta. "Semua ini tanpa bunga. Masyarakat harus bisa memanfaatkan program ini untuk menggerakkan ekonomi keluarga,
ujar Andi.

Sorotan juga datang dari Asep, warga Bida Kharisma yang menggagas berdirinya Kampung Seni Batam sejak 2020. Ia menjelaskan Kampung Seni telah memiliki legalitas dari Dinas Pariwisata Kota Batam dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), namun masih kekurangan fasilitas utama berupa gedung aula untuk workshop dan pameran.

"Kami ingin Kampung Seni Batam jadi destinasi wisata berbasis masyarakat. Sudah ada gapura, oleh-oleh khas, hingga atraksi budaya. Tapi kami butuh dukungan gedung agar lebih representatif," ungkap Asep.

Menurut Asep, keterbatasan gedung membuat pelaku seni harus menggunakan rumah warga untuk beraktivitas. Bahkan, jika ada agen perjalanan wisata yang ingin berkunjung, para seniman kerap kebingungan karena tak memiliki lokasi permanen.

"Kalau lahan kami sudah ada. Tapi membangun gedung butuh dukungan biaya besar. Kami berharap selain Pokir DPRD, perusahaan di Batam bisa menyalurkan CSR untuk membantu pengembangan Kampung Seni," tambahnya.

Selain Kampung Seni, warga juga mengusulkan agar kolam besar di depan perumahan dijadikan destinasi wisata keluarga. Usulan ini dinilai dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menghadirkan ikon wisata baru di Batam.

Menanggapi hal itu, Andi menekankan perlunya koordinasi dengan BP Batam terkait status lahan. "Usulan ini sangat positif. Tapi di Batam status lahan berbeda dengan daerah lain di Kepri. Maka langkah awal, kita harus koordinasi dengan BP Batam agar jelas status dan fungsinya," jelas legislator yang duduk di Komisi II DPRD Kepri tersebut.

Ia menegaskan dukungannya untuk pengembangan Kampung Seni Batam maupun destinasi wisata lain. Menurutnya, jika Dinas Pariwisata Kota dan Provinsi Kepri berkolaborasi, kendala dapat diatasi.

"Kalau dua dinas pariwisata bekerja sama, insya Allah solusi bisa ditemukan. Jika Kampung Seni maju, UMKM juga berkembang. Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto: UMKM harus sejahtera," tegas Andi.

Reses malam itu ditutup dengan optimisme. Warga merasa aspirasinya didengar, sementara Andi memastikan dirinya siap menjadi jembatan solusi. "Kalau warga kreatif, pemerintah hadir, dan pengawasan berjalan, bukan tidak mungkin Kampung Seni Batam dan kolam wisata ini menjadi destinasi baru yang membanggakan Batam," pungkasnya.

Editor: Gokli