Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Harga Pangan Stabil, Inflasi Kepri Terkendali di Bawah Rata-rata Nasional
Oleh : Aldy Daeng
Senin | 04-08-2025 | 12:08 WIB
AR-BTD-4721-BI-Kepri.jpg Honda-Batam
Ilustrasi. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), khususnya di Kota Batam, terpantau tetap terkendali seiring dengan stabilnya harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional. Kondisi ini berkontribusi terhadap inflasi Kepri yang tercatat di bawah rata-rata nasional pada Juli 2025.

Di Pasar Botania, Batam, harga komoditas pangan dalam dua pekan terakhir cenderung stabil, bahkan beberapa mengalami penurunan. Hal ini disampaikan oleh salah satu pedagang, Afdhal, yang menyebut harga bawang merah Brebes kini turun menjadi Rp 54 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 60-65 ribu.

"Bawang merah impor lebih murah, hanya Rp 20 ribu. Bawang putih masih di kisaran Rp 30 ribu. Harga cabai juga stabil, bahkan sayur mayur tetap terjangkau meski musim hujan mulai datang," ujar Afdhal, Senin (4/8/2025).

Menurutnya, harga cabai merah keriting berada di angka Rp 54 ribu per kilogram, cabai rawit hijau Rp 52 ribu, dan cabai rawit merah berkisar antara Rp 54 ribu hingga Rp 58 ribu, tergantung kualitas. Sayuran seperti kangkung dan bayam dijual Rp 14 ribu dan Rp 15 ribu per kilogram.

Harga daging juga terpantau stabil. Ayam segar dijual sekitar Rp 40 ribu per kilogram, sedangkan ayam beku dibanderol lebih murah, Rp 30-32 ribu. Untuk daging sapi beku, harganya turun tipis ke kisaran Rp 105-110 ribu per kilogram.

Inflasi Kepri Lebih Rendah dari Nasional

Data Bank Indonesia mencatat inflasi Kepri pada Juli 2025 sebesar 0,19 persen (month-to-month/mtm), lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mencapai 0,30 persen. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kepri sebesar 1,97 persen, juga di bawah rata-rata nasional sebesar 2,37 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto, mengatakan inflasi yang terkendali menunjukkan efektivitas langkah pengendalian harga yang telah dilakukan bersama pemerintah daerah. "Inflasi Kepri masih dalam rentang target nasional 2,5 +/-1 persen. Ini menunjukkan upaya pengendalian harga berjalan cukup efektif," ujar Rony, Sabtu (2/8/2025).

Secara spesifik, Kota Batam mencatat inflasi bulanan sebesar 0,15 persen dan inflasi tahunan sebesar 2,30 persen. Sementara itu, Tanjungpinang mengalami inflasi 0,19 persen (mtm), dan Kabupaten Karimun mencatat inflasi 0,46 persen. Menariknya, secara tahunan Karimun justru mengalami deflasi sebesar -0,40 persen.

Rony menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi Kepri, dengan andil sebesar 0,14 persen. Komoditas lain seperti pakaian, alas kaki, serta perumahan dan energi juga menyumbang inflasi meski dalam jumlah kecil.

Bawang Merah dan Daging Sapi Jadi Pendorong Inflasi

Komoditas yang memberi kontribusi terbesar terhadap inflasi Juli antara lain bawang merah (0,05 persen), daging sapi (0,03 persen), ikan tongkol, cabai rawit, dan telur ayam ras. Sementara itu, beberapa komoditas seperti cabai merah, santan segar, sawi hijau, daging ayam ras, hingga sepeda motor justru menyumbang deflasi.

Sinergi BI dan Pemda Jaga Stabilitas Harga

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan, terutama pada sektor pangan yang sangat sensitif terhadap inflasi. "Kami terus memperkuat koordinasi dengan pemda untuk menjaga pasokan dan kestabilan harga, demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," tegas Rony.

Dengan situasi harga yang stabil dan dukungan berbagai pihak, daya beli masyarakat di Kepri diharapkan tetap terjaga, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah menjelang akhir tahun.

Editor: Gokli