Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Siswa Berkebutuhan Khusus Indonesia Raih Prestasi di Ajang Kuliner Internasional
Oleh : Redaksi
Rabu | 30-07-2025 | 09:48 WIB
7-perak.jpg Honda-Batam
Delapan siswa berkebutuhan khusus dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam ajang The 14th Salon Culinaire 2025. (Foto: Kemendikdasmen)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Keterbatasan bukan halangan untuk berprestasi di tingkat dunia. Delapan siswa berkebutuhan khusus dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam ajang The 14th Salon Culinaire 2025, sebuah kompetisi kuliner internasional bergengsi yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), pada 22-25 Juli 2025.

Dalam ajang tersebut, mereka berhasil membawa pulang tujuh medali perak, satu medali perunggu, dan satu penghargaan tertinggi untuk kategori Fondant Cake Figures. Salah satu peraih prestasi itu adalah Mawaddah Warahmah dari SLB Negeri Kandangan, Kalimantan Selatan, yang menyabet medali perak sekaligus penghargaan The Highest Score - Class 01 Fondant Cake Figures.

"Selamat atas pencapaian luar biasa ini. Semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya untuk terus berkarya," ujar Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, di Jakarta, Jumat (25/7/2025), demikian dikutip laman Kemendikdasmen.

Ia juga mengapresiasi dedikasi para pembina dan guru pendamping dalam mendukung proses pembinaan hingga kompetisi. "Terima kasih kepada para guru dan pembina yang membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan komitmen," tambah Irene.

Seluruh capaian ini akan tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) sebagai bagian dari database prestasi nasional. Sebelum berlaga, para peserta telah mengikuti pembinaan intensif selama tiga tahap yang difasilitasi Puspresnas.

Bersaing dengan Profesional, Anak SLB Tunjukkan Daya Saing

Koordinator Pembina, Ucu Sawitri, menjelaskan bahwa delapan siswa tersebut bersaing langsung dengan chef profesional, siswa perhotelan, dan pelaku industri kuliner lainnya. Menurutnya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga mampu tampil dan unggul di panggung internasional.

"Mereka berkompetisi dengan peserta dari berbagai kalangan, namun tetap menunjukkan kemampuan terbaik. Ini sangat membanggakan dan menjadi pengalaman tak ternilai," kata Ucu.

Perjuangan Penuh Haru di Balik Prestasi

Di balik medali dan penghargaan yang diraih, tersimpan kisah perjuangan yang menyentuh. Fitria Nuraini Herawati, guru pendamping Mawaddah, mengungkapkan bahwa siswinya harus menempuh perjalanan selama empat jam menuju bandara sebelum berangkat ke Jakarta. Mawaddah berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah sebagai buruh serabutan dan ibu seorang buruh tani.

"Perjuangannya luar biasa. Dukungan dari orang tuanya juga sangat besar meski kondisi ekonomi terbatas," tutur Fitria dengan haru.

Mawaddah sendiri mengaku sangat bahagia atas pencapaiannya. "Saya senang sekali bisa juara. Teman-teman saya juga pasti bisa," ucapnya dengan penuh semangat.

Cerita lain datang dari Rizki Ramadan, siswa SLB Prof Dr Sri Soedewi Masjchun Sofwan, Jambi. Rizki tinggal di asrama karena jarak rumah ke sekolah yang memakan waktu hingga empat jam. Guru pendampingnya, Gustira Mayasari, mengatakan keberhasilan Rizki tidak terlepas dari keyakinan dan semangat belajar yang tinggi.

"Berkat bimbingan dari para pembina dan dukungan dari Puspresnas, Rizki bisa membuktikan kemampuannya. Ini sangat membanggakan," ujar Gustira.

Rizki pun menyampaikan rasa syukur dan bangganya. "Terima kasih semuanya. Saya bangga dan senang bisa berprestasi," ujarnya singkat.

Ajang Internasional Bertaraf Dunia

The 14th Salon Culinaire merupakan kolaborasi antara Association of Culinary Professionals Indonesia, World Association of Chefs Societies, dan Indonesia Pastry Bakery Society. Dalam kompetisi ini, peserta ditantang menghias dan membuat kue sesuai kreativitas dalam waktu dua jam.

Prestasi yang diraih para siswa SLB ini tak hanya menjadi bukti kemampuan mereka, tetapi juga pengingat bahwa kesempatan dan bimbingan yang tepat mampu melahirkan generasi berprestasi dari berbagai latar belakang.

Editor: Gokli