Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kental Manis Masih Dianggap Susu Balita, Pakar Serukan Penguatan Edukasi Gizi di Desa
Oleh : Redaksi
Senin | 28-07-2025 | 12:48 WIB
kental-manis3.jpg Honda-Batam
Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Klinik Pratama Aisyiyah Kulon Progo. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Kulon Progo - Persepsi keliru masyarakat desa terhadap kental manis yang masih dianggap sebagai susu bergizi untuk balita dinilai perlu segera diluruskan.

Minimnya pemahaman tentang kandungan kental manis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan produk ini kerap dikonsumsi oleh anak-anak, bahkan dalam kondisi kesehatan rentan.

Temuan tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Klinik Pratama Aisyiyah Kulon Progo. Kegiatan ini merupakan bagian dari riset bersama Universitas Aisyiyah (UNISA) dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), yang mempelajari dampak konsumsi kental manis terhadap status gizi dan kesehatan balita.

"Biasanya kalau menjenguk orang sakit, masyarakat di sini membawa susu kalengan, roti tawar, dan pisang. Tapi mereka tidak sadar bahwa susu kalengan yang dimaksud itu sebenarnya kental manis," ujar Supriharsih, Kader Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Galur, Sabtu (27/7/2025).

Supriharsih menambahkan, persepsi tersebut muncul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang komposisi kental manis, yang padat gula dan rendah protein. "Insyaallah hasil penelitian ini akan kami sosialisasikan kepada masyarakat, terutama di wilayah kerja Aisyiyah Galur," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Penjabat Lurah Karangsewu, Fitri Lianawati, yang menyoroti kebiasaan masyarakat mengonsumsi kental manis dalam kehidupan sehari-hari. "Di angkringan atau pedagang es teh seperti teh tarik, kental manis selalu digunakan. Produk ini mudah ditemukan dan harganya murah," kata Fitri.

Menurutnya, faktor ekonomi menjadi penyebab utama masyarakat lebih memilih kental manis dibanding susu bubuk atau susu cair. Hal ini sekaligus menjadikan kental manis sebagai produk yang laku keras di kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Sementara itu, Rektor Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Dr Warsiti, menegaskan bahwa budaya konsumsi kental manis harus ditanggapi serius karena berpotensi memperburuk status gizi anak. "Salah satu penyebab stunting adalah pola gizi yang buruk. Kental manis, yang tinggi gula tapi minim protein, tidak layak disebut susu untuk balita," jelas Warsiti.

Ia menekankan pola konsumsi masyarakat harus dibenahi melalui pendekatan edukatif yang masif dan berkelanjutan, terutama di desa-desa.

Melalui penelitian ini, para pemangku kepentingan berharap dapat menggugah kesadaran publik dan mengubah kebiasaan keliru agar kasus gizi buruk dan stunting tidak terus berulang di generasi mendatang.

Editor: Gokli