Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pelatihan ke-4 CoE Wakatobi MPA, Cetak Praktisi Konservasi Laut Berbasis Komunitas
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-07-2025 | 09:48 WIB
1207_Pelatihan-ke-4-CoE_934834788.jpg Honda-Batam
CoE Wakatobi Marine Protected Area (MPA) kembali menggelar pelatihan siklus ke-4, hasil kolaborasi antara Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), Pemerintah Kabupaten Wakatobi, serta WWF-Indonesia. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Wangi-Wangi - Center of Excellence (CoE) Wakatobi Marine Protected Area (MPA) kembali menggelar pelatihan siklus keempat pada 22-29 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), Pemerintah Kabupaten Wakatobi, serta WWF-Indonesia.

Pelatihan diselenggarakan sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan kawasan konservasi laut yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sebanyak 24 peserta dari berbagai lembaga dan daerah mengikuti pelatihan intensif yang terdiri atas 70 persen praktik lapangan dan 30 persen sesi kelas. Kegiatan ini didukung oleh 32 narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah daerah, pengelola Taman Nasional, serta perwakilan masyarakat adat.

Taman Nasional Wakatobi, lokasi pelatihan, mencakup wilayah seluas sekitar 1,3 juta hektare di jantung Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), dan menjadi habitat bagi delapan target konservasi, seperti terumbu karang, lamun, mangrove, hingga spesies laut penting.

Diresmikan pada Agustus 2019, CoE Wakatobi MPA merupakan inisiatif multipihak yang bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi laut. Selain penguatan kurikulum berbasis kompetensi, CoE juga menyediakan empat laboratorium tematik: Pengembangan Komunitas, Korporasi, Biodiversitas, dan Tata Kelola.

Pelaksana tugas Direktur AKKP Wakatobi, Alfi Kusuma, menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat. Ia berharap pelatihan ini dapat menjadi sarana peningkatan kompetensi teknis yang mendorong aksi nyata di lapangan.

Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Alan Frendy Koropitan, menekankan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, termasuk peran perguruan tinggi vokasi, pemerintah daerah, pengelola taman nasional, serta organisasi nonpemerintah (NGO), dalam mewujudkan konservasi perairan yang tidak hanya berkelanjutan secara ekologis, tetapi juga berdampak ekonomi bagi masyarakat.

Senada, Kepala BTNW La Ode Ahyar T. Mufti mendorong agar hasil pelatihan ini tidak berhenti pada tataran teori. Menurutnya, peningkatan kapasitas harus terus dilanjutkan melalui program pelatihan lanjutan bagi narasumber dan peserta, serta diimplementasikan hingga ke tingkat pemanfaat sumber daya, seperti nelayan.

Sementara itu, Project Leader Sustainable Ecosystem and Species (SESS) WWF-Indonesia, Sugianta, menyampaikan bahwa pelatihan ini ditujukan untuk pengelola kawasan konservasi pada level menengah. Pelatihan siklus keempat ini melanjutkan tiga siklus sebelumnya yang telah melibatkan 81 peserta dari berbagai latar belakang.

CoE Wakatobi MPA juga mendukung sistem pelatihan nasional melalui skema SK3/SKKNI dan melengkapi kurikulum akademik yang ada. Dengan pendekatan berbasis komunitas dan penguatan kemitraan, pelatihan ini diharapkan menjadi model pembelajaran nasional dalam upaya konservasi laut jangka panjang.

Editor: Gokli