Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Yohei Sasakawa Dorong Indonesia Jadi Contoh Global Eliminasi Kusta, Menkes Tegaskan Kusta Bisa Sembuh
Oleh : Redaksi
Kamis | 10-07-2025 | 12:28 WIB
Yohei-Menkes.jpg Honda-Batam
WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa bersama Menkes Budi Gunadi Sadikin, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Sampang, Madura, Selasa (8/7/2025). (Foto: Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Sampang - WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyatakan komitmennya untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu prioritas utama dalam program Zero Kusta di dunia. Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Sampang, Madura, Selasa (8/7/2025).

Menurut Sasakawa, kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau, dengan keberagaman budaya dan sejarah, menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemberantasan kusta. Namun, ia menilai Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi teladan global dalam eliminasi penyakit tersebut.

"Di Indonesia, ada lebih dari 17.000 pulau, dan mereka juga punya budaya serta sejarahnya sendiri. Jadi, itu salah satu tantangannya. Tapi kami sangat bersyukur dengan kehadiran Menteri Kesehatan ini, karena beliau mencoba membawa Zero Kusta dari negara ini dengan cara baru," ujar Sasakawa, demikian dikutip laman resmi Kemenkes.

Ia mengungkapkan, kusta kerap luput dari perhatian karena jumlah penderitanya yang relatif sedikit dibandingkan penyakit lain seperti tuberkulosis (TB), malaria, atau HIV/AIDS. "Biasanya, kalau Menteri Kesehatan itu yang bersangkutan, mereka punya prioritas lain, seperti TB, malaria, atau HIV/AIDS. Dari segi jumlah pasien, kusta jauh lebih sedikit --dua digit atau tiga digit dibandingkan penyakit-penyakit lainnya," jelasnya.

Meski begitu, Sasakawa menekankan bahwa kusta memiliki beban sosial yang jauh lebih berat karena stigma dan diskriminasi yang menyertainya. "Bahkan jika orang tersebut sembuh total dari kusta, mereka masih akan disebut sebagai pasien kusta. Anda mungkin tidak pernah mengatakan mantan pasien TB atau mantan pasien malaria," katanya.

Ia menambahkan, penghapusan stigma menjadi alasannya mendedikasikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk memberantas kusta. "Ini satu-satunya penyakit yang juga disebutkan dalam Alkitab. Karena alasan-alasan tersebut, penyakit ini telah ditempatkan di bawah diskriminasi yang ditakuti --yang tidak ada pada penyakit lainnya," imbuh Sasakawa.

Dalam upaya menekan stigma, Sasakawa mendorong keterlibatan pemimpin agama dan institusi pendidikan. "Menteri Kesehatan saja tidak akan dapat mencapai Nol Kusta. Kami juga membutuhkan dukungan dari sekolah. Mereka harus bertanggung jawab untuk mencoba menemukan lesi kulit di antara anak-anak di tingkat sekolah. Dan kami juga membutuhkan dukungan dari para pemimpin agama karena mereka akan berperan penting menghilangkan diskriminasi dan stigmatisasi ini," ungkapnya.

Sasakawa juga menggarisbawahi pentingnya dialog lintas agama demi mengembalikan martabat para penyintas. "Saya telah melakukan banyak pembicaraan dengan Paus dari Vatikan, sehingga kami dapat memperoleh bantuan dari para pemimpin agama. Kita perlu melakukan hal serupa juga kepada para pemimpin Muslim. Kita akan terus mendekati mereka untuk mendapatkan bantuan," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang turut hadir di Sampang, menegaskan kusta bukanlah kutukan atau hukuman, melainkan penyakit menular yang bisa disembuhkan bila terdeteksi dini. "Di sini saya ingin memastikan tidak ada lagi orang yang merasa malu memeriksakan diri. Kusta bukan penyakit kutukan, bukan hukuman dari Tuhan. Ini penyakit menular yang bisa sembuh total," kata Budi saat berdialog dengan warga.

Ia menjelaskan, pengobatan kusta bisa menyembuhkan pasien sepenuhnya jika dilakukan segera. "Kalau ditemukan cepat, enam bulan diobati bisa sembuh dan tidak menyebabkan cacat," tambahnya.

Budi juga mengkritisi praktik lama yang menempatkan penderita kusta di kawasan terpisah, yang dikenal sebagai kampung kusta. "Kalau teman-teman pernah dengar kampung kusta, itu sebenarnya tidak terlalu tepat. Karena kusta setelah diobati dalam sebulan sudah tidak menular," ujarnya.

Kusta masih menjadi tantangan kesehatan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Sampang yang memiliki angka kasus cukup tinggi. Selain pengobatan, penghapusan stigma menjadi kunci penting untuk mendukung eliminasi kusta secara menyeluruh.

Editor: Gokli