Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pakar Kesehatan Tekankan MPASI Fortifikasi Penting untuk Cegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Oleh : Redaksi
Senin | 07-07-2025 | 13:28 WIB
ADB.jpg Honda-Batam
Ilustrasi - Anemia Defisiensi Besi (ADB). (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang terfortifikasi zat besi guna mencegah anemia defisiensi besi (ADB) pada anak. Anemia ini masih menjadi persoalan gizi serius dengan prevalensi tinggi di dunia, termasuk Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Prof Dr dr Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk(K), mengungkapkan ADB menjadi salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian karena dampaknya dapat mengganggu perkembangan anak. "WHO mencatat, anemia pada anak usia di bawah lima tahun prevalensinya mencapai 38,5 persen, dan sekitar 50 persen di antaranya merupakan anemia defisiensi besi," ujar Prof Harapan, dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (5/7/2025).

Menurut Prof Harapan, ADB dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari bayi lahir dengan berat badan rendah, memiliki saudara kembar, hingga faktor keturunan dari ibu yang juga menderita anemia. Kekurangan asupan zat besi dari makanan sehari-hari juga menjadi salah satu penyebab utama.

Jika tidak segera ditangani, ADB berisiko menimbulkan gangguan serius pada kesehatan anak. "Ke depan, efek anemia ini bisa menyebabkan gangguan perkembangan motorik, menurunkan kemampuan kognitif anak, serta mengakibatkan gangguan perilaku, pendengaran, penglihatan, bahkan proses mielinisasi di otak," paparnya.

Senada, dokter spesialis anak, dr Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A, menjelaskan ADB dapat berdampak pada penurunan kecerdasan anak. "Ada penelitian yang menyebutkan IQ anak bisa turun 8 hingga 9 poin akibat ADB. Kalau tidak kita koreksi sejak dini, dampaknya bisa berlanjut sampai remaja," tutur dr Agnes.

dr Agnes mengungkapkan, banyak orang tua tidak menyadari anaknya mengalami ADB karena gejalanya sering tidak tampak jelas pada awalnya. "Kalau sudah muncul gejala seperti pucat, lemas, atau anak menjadi tidak aktif, itu sudah terlambat. Artinya, pencegahannya kurang optimal," ujarnya.

Menurut dr Agnes, salah satu kekeliruan orang tua adalah menganggap kebutuhan zat besi anak selalu tercukupi hanya dari Air Susu Ibu (ASI). Ia menekankan, meskipun ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan, kandungan zat besi di dalamnya mulai menurun setelah bayi berusia enam bulan.

"Walaupun ASI itu yang terbaik, cuma di usia 6 bulan ASI akan kurang. Apalagi anak yang minum ASI eksklusif, berbeda dengan yang mengonsumsi susu formula karena biasanya susu formula sudah difortifikasi," jelas dr Agnes.

Karena itu, dr Agnes merekomendasikan pemberian MPASI yang kaya zat besi, termasuk makanan atau minuman yang telah difortifikasi, misalnya susu pertumbuhan fortifikasi, untuk mencegah terjadinya ADB pada anak.

"Susu pertumbuhan yang sudah diperkaya berbagai nutrisi, termasuk zat besi, dapat membantu mencegah ADB pada anak," tambahnya.

Pakar kesehatan berharap orang tua semakin memahami pentingnya MPASI fortifikasi agar anak tumbuh optimal, terbebas dari anemia, dan memiliki kecerdasan yang baik di masa depan.

Editor: Gokli