Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menuju 2030, Kemenkes Perkuat Strategi Eliminasi HIV dan IMS: Edukasi dan Deteksi Dini Jadi Kunci
Oleh : Redaksi
Kamis | 26-06-2025 | 11:48 WIB
HIV-IMS.jpg Honda-Batam
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memantapkan langkah untuk mencapai target eliminasi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2030.

Melalui pendekatan edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang komprehensif, Kementerian Kesehatan RI menegaskan komitmennya menghadapi beban kasus HIV dan IMS yang masih tinggi di Tanah Air.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr Ina Agustina, mengungkapkan Indonesia kini menempati peringkat ke-14 secara global untuk jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Pada tahun 2025, diperkirakan ada 564.000 ODHIV di Indonesia, namun baru 63 persen yang mengetahui statusnya.

"Dari jumlah itu, sekitar 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), namun hanya 55 persen yang berhasil mencapai supresi viral load. Ini artinya, upaya deteksi dan pengobatan masih perlu ditingkatkan secara signifikan," kata dr Ina dalam konferensi pers daring, Jumat (20/6/2025).

Menurutnya, sekitar 76 persen kasus HIV terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas, termasuk DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, dan Kepulauan Riau. Sementara kelompok yang paling terdampak adalah laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks perempuan, serta pengguna napza suntik. Di Papua, penularan bahkan telah meluas ke populasi umum, dengan prevalensi mencapai 2,3 persen.

Dalam tiga tahun terakhir, angka kasus HIV relatif stagnan, namun jumlah penderita IMS justru meningkat, termasuk pada kelompok usia muda. Data tahun 2024 mencatat 23.347 kasus sifilis, dengan 77 kasus di antaranya merupakan sifilis kongenital yang ditularkan dari ibu ke bayi. Sementara itu, gonore juga menunjukkan angka signifikan, terutama di DKI Jakarta, dengan 10.506 kasus.

"IMS bukan hanya isu individu, tapi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini membuka peluang lebih besar bagi penularan HIV dan mayoritas kasus terjadi pada usia produktif, bahkan mulai mengkhawatirkan di usia remaja 15-19 tahun," tegas dr Ina.

Ancaman IMS juga mencakup infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang dapat berkembang menjadi kanker serviks bila tidak terdeteksi sejak dini. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi kesehatan reproduksi perempuan.

Senada dengan dr Ina, pakar dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, dr Hanny Nilasari, menyebutkan pentingnya edukasi dan skrining rutin, terutama karena banyak IMS dan infeksi saluran reproduksi (ISR) bersifat tanpa gejala.

"Sering kali penderita tidak sadar mengidap IMS hingga muncul komplikasi seperti radang panggul, kehamilan ektopik, atau infertilitas. Tidak sedikit bayi yang lahir dari ibu dengan IMS mengalami berat lahir rendah, prematur, bahkan meninggal saat neonatal," jelas dr Hanny.

Ia juga mengungkapkan bahwa tren IMS terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan usia penderita yang semakin muda. "Sudah banyak laporan tentang IMS dan kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja, dan ini berkontribusi terhadap tingginya angka aborsi," tambahnya.

Gejala IMS, lanjutnya, bisa berupa luka atau lenting di alat kelamin, cairan abnormal, rasa gatal atau nyeri saat buang air kecil, pembengkakan kelenjar, hingga ruam kulit. Penularannya bisa terjadi lewat hubungan seksual (oral, vaginal, anal), pertukaran cairan tubuh, serta dari ibu ke anak.

Kemenkes terus memperluas cakupan layanan kesehatan dengan target 95-95-95 pada 2030: 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen dari mereka menjalani pengobatan, dan 95 persen dari yang diobati mencapai supresi virus. Selain itu, pemerintah menargetkan eliminasi sifilis dan gonore hingga 90 persen, serta triple elimination HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak.

Layanan tes HIV kini tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan pemeriksaan viral load di 192 kabupaten/kota. Pemerintah juga terus menggencarkan kampanye pencegahan dengan pendekatan "ABCDE": Abstinence (tidak berhubungan seksual sebelum menikah), Be faithful (setia pada satu pasangan), Condom (gunakan kondom untuk kelompok berisiko), Drugs (hindari narkoba), dan Education (peningkatan kesadaran dan pengetahuan).

Dengan kerja sama lintas sektor, pendekatan berbasis komunitas, dan dukungan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu mencapai eliminasi HIV dan IMS sebagai bagian dari upaya mewujudkan generasi sehat dan bebas stigma.

Editor: Gokli