Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kenaikan Biaya Pendidikan Capai 15 Persen per Tahun, Orang Tua Diimbau Melek Investasi Sejak Dini
Oleh : Aldy Daeng
Kamis | 12-06-2025 | 09:48 WIB
BEI4.jpg Honda-Batam
Bursa Efek Indonesia. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kenaikan biaya pendidikan yang terus melaju hingga 15 persen per tahun menjadi perhatian serius bagi para orang tua. Perencanaan keuangan yang tepat, terutama melalui investasi, kini dinilai sebagai langkah krusial untuk menjamin masa depan pendidikan anak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta sejumlah survei lembaga keuangan, biaya pendidikan di Indonesia mengalami lonjakan tahunan yang cukup signifikan, berkisar antara 10 hingga 15 persen. Jika saat ini biaya masuk perguruan tinggi ternama mencapai Rp 100 juta, maka dalam satu dekade angkanya bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.

"Jika hanya mengandalkan tabungan konvensional, pertumbuhan dana yang terkumpul sering kali tidak mampu mengejar laju inflasi biaya pendidikan," ungkap perencana keuangan dari Finansia Consulting, Diah Mulyasari, dalam wawancara, Rabu (11/6/2025).

Menurutnya, banyak keluarga masih kurang sadar akan pentingnya perencanaan investasi sejak dini. Diah menjelaskan ada tiga instrumen investasi populer yang bisa dimanfaatkan untuk dana pendidikan, yakni saham, obligasi, dan reksa dana. Masing-masing memiliki keunggulan dan risiko yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan jangka waktu pendidikan anak.

"Saham cocok untuk investasi jangka panjang karena potensi imbal hasilnya tinggi. Tapi risikonya juga besar, sehingga cocok jika waktu investasi masih lebih dari lima tahun," ujarnya.

Sementara itu, obligasi dinilai lebih stabil. Instrumen ini memberikan penghasilan tetap berupa kupon dan lebih aman, khususnya jika diterbitkan oleh pemerintah. "Namun, return obligasi lebih rendah dibanding saham. Ini cocok untuk orang tua dengan profil risiko konservatif," tambah Diah.

Adapun reksa dana menjadi alternatif fleksibel karena dapat disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu. Reksa dana juga memungkinkan investasi mulai dari nominal kecil dan dikelola oleh manajer investasi profesional.

Diah menyarankan, sebelum memilih instrumen investasi, orang tua perlu mempertimbangkan beberapa hal penting: usia anak, jangka waktu hingga kebutuhan dana, target dana, serta profil risiko masing-masing keluarga. "Misalnya, jika anak masih berusia satu tahun, waktu persiapan mencapai 17 tahun. Dalam periode itu, porsi besar di saham bisa dipertimbangkan. Tapi kalau waktunya tinggal lima tahun, maka reksa dana pendapatan tetap atau pasar uang akan lebih sesuai," jelasnya.

Ia juga menyoroti kesalahan umum yang masih sering dilakukan, seperti menunda investasi, hanya menabung di rekening bank, tidak melakukan evaluasi portofolio, atau salah kaprah menganggap asuransi pendidikan sebagai solusi investasi. "Asuransi itu proteksi, bukan instrumen pertumbuhan dana. Orang tua perlu memahami perbedaan ini agar tidak salah langkah," tegas Diah.

Peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi kunci. Orang tua bisa memulai dengan mengikuti pelatihan, seminar, membaca buku keuangan, hingga memanfaatkan platform digital. Melibatkan anak sejak dini dalam diskusi keuangan juga penting untuk menumbuhkan pemahaman tentang nilai uang dan kebiasaan menabung.

"Anak-anak perlu diajari bahwa pendidikan itu mahal, dan perlu usaha untuk mencapainya. Investasi bukan hanya tentang uang, tetapi tentang mempersiapkan masa depan yang lebih baik," pungkas Diah.

Dengan strategi keuangan yang tepat, keluarga tidak hanya terhindar dari utang saat anak masuk jenjang pendidikan tinggi, tetapi juga memberi kebebasan untuk memilih sekolah terbaik tanpa beban finansial yang berlebihan. Masa depan cerah anak dimulai dari keputusan bijak keuangan hari ini.

Editor: Gokli