Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Swedia Perkuat Kemitraan Transformasi Layanan Kesehatan dan Teknologi Medis
Oleh : Redaksi
Sabtu | 31-05-2025 | 13:48 WIB
RI-Swedia.jpg Honda-Batam
Penandatanganan MoU antar Menkes Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Kesehatan Swedia, Acko Ankarberg Johansson, memperkuat kerja sama strategis di bidang kesehatan. (Ist)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Swedia resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antar-pemerintah untuk memperkuat kerja sama strategis di bidang kesehatan.

Penandatanganan yang dilakukan dalam Konferensi Healthcare Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) 2025 ini menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral kedua negara, sekaligus menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Swedia.

MoU ditandatangani langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Kesehatan Swedia Acko Ankarberg Johansson, mencakup berbagai bidang prioritas, seperti penguatan layanan kesehatan, pengembangan teknologi kesehatan digital, pengobatan presisi, kesiapsiagaan darurat, resistensi antimikroba, dan peningkatan kapasitas tenaga medis.

"Kolaborasi ini akan difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu peningkatan investasi di sektor kesehatan Indonesia, perluasan kerja sama pendidikan melalui Karolinska Institutet, serta transfer teknologi dan pengetahuan, khususnya terkait penanganan penyakit tropis," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, usai penandatanganan, demikian dikutip laman Kemenkes.

Ia menekankan kemitraan ini bertujuan menciptakan lompatan besar dalam kualitas layanan kesehatan di Indonesia melalui adopsi teknologi modern dan pembelajaran dari sistem kesehatan Swedia yang berkelanjutan.

Menteri Kesehatan Swedia, Acko Ankarberg Johansson, menegaskan kerja sama ini bukan sekadar hubungan diplomatik, melainkan berakar pada komitmen bersama terhadap layanan kesehatan yang inklusif, berbasis data, dan berpusat pada pasien.

"MoU ini menyelaraskan prioritas kita untuk membangun sistem layanan kesehatan yang skalabel, responsif terhadap tantangan global, dan mengintegrasikan inovasi digital. Kami siap mendukung visi Indonesia membangun sistem kesehatan yang tangguh dan inklusif," kata Johansson.

Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan ASEAN, Daniel Blockert, turut menyampaikan bahwa kemitraan sektor kesehatan kini menjadi pilar dinamis dalam hubungan kedua negara.

"Kolaborasi ini tidak hanya soal berbagi pengetahuan, tetapi juga investasi pada sistem, SDM, dan teknologi. Ini adalah contoh konkret bahwa kerja sama bilateral bisa berdampak nyata dan berkelanjutan bagi kesehatan global," ungkap Blockert.

Selain MoU antar-pemerintah, Konferensi SISP 2025 juga melahirkan sejumlah kerja sama multi-pihak, di antaranya:

  • Perjanjian hibah studi kelayakan antara Swedfund, Kementerian Kesehatan RI, dan RS Kanker Dharmais untuk pengembangan pusat radioterapi
  • Kemitraan antara Kementerian Kesehatan dan AstraZeneca untuk pengendalian penyakit tidak menular (PTM)
  • Kolaborasi antara Kemenkes dan Essity dalam penguatan program resistensi antimikroba (AMR)
  • Dialog strategis antara Pemprov DKI Jakarta dan HemoCue untuk program skrining anemia di masyarakat

Pemerintah Indonesia terus melakukan modernisasi sistem kesehatan nasional, didukung oleh investasi di bidang infrastruktur, digitalisasi layanan, dan pencegahan penyakit. Dalam konteks ini, perusahaan-perusahaan Swedia semakin menunjukkan komitmennya untuk mendukung prioritas Indonesia, selaras dengan enam fokus utama SISP: kanker, layanan gawat darurat, diabetes, kesehatan ibu dan anak, kesehatan paru-paru, dan transformasi digital.

Penandatanganan MoU dan penyelenggaraan Konferensi SISP 2025 memperkuat posisi kesehatan sebagai pilar strategis dalam hubungan bilateral Indonesia–Swedia, serta menegaskan komitmen bersama dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.

Editor: Gokli