Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Katarak, Penyebab Kebutaan Terbesar
Oleh : dd/tc
Sabtu | 13-10-2012 | 10:49 WIB
Katarak-pasien.gif Honda-Batam
Pasien katarak.

JAKARTA, batamtoday - Katarak menjadi penyebab utama atau 50 persen dari Kebutaan di Indonesia. Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Supriyantoro mengatakan katarak merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada usia lanjut.


"Kebutaan karena katarak sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan operasi katarak," kata Supriyantoro, seperti dikutip dari Tempo.Co, Sabtu (13/10/2012). Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengalami kebutaan sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

Menurut Supriyantoro, penyebab lain kebutaan dan gangguan penglihatan adalah kelainan refraksi dengan prevalensi 22,1 persen dari total populasi, dan sebanyak 15 persen di antaranya diderita oleh anak usia sekolah. 

Kelainan refraksi dapat ditemukan pada semua kelompok umur, namun kondisi ini perlu diperhatikan pada anak-anak usia sekolah. "Sedangkan, masalah gangguan penglihatan lain yang dapat menyebabkan kebutaan adalah glaucoma atau peningkatan tekanan dalam bola mata, serta xeroftalmia yaitu penyakit akibat kekurangan vitamin A," ujar Supriyantoro.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mencanangkan Hari Pemberantasan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Indonesia, pada puncak peringatan Hari Penglihatan Sedunia, di RS Mata Cicendo, Bandung. 

Dengan pencanangan ini, Indonesia akan memiliki persamaan aktivitas dan kegiatan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan. "Aktivitas yang dilakuan berupa dorogan agar masyarakat secara pro aktif melakukan pemeriksaan kesehatannya di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan," ucap Mukti.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2011 menyebutkan saat ini terdapat 285 juta orang menderita gangguan penglihatan, 39 juta orang diantaranya mengalami kebutaan. Sebanyak 90 persen penderitanya berada di negara berkembang. 

Data riset kesehatan tahun 2007 menunjukkan proporsi Low Vision untuk penduduk usia 6 tahun ke atas sebesar 4,8 persen, sedangkan proporsi kebutaan sebesar 0,9 persen.