Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Catatan Saibansah Dardani

Ke Gontor Saya Mencari Pendidikan dan Pengajaran
Oleh : Saibansah
Rabu | 07-09-2022 | 08:20 WIB
A-CAPEL-GONTOR-SAIBAN_jpg2.jpg Honda-Batam
Saibansah dengan kartu capel Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur. (Foto: Ist)

SIANG 6 September 2022 pukul 14.46 WIB, saya tertegun membaca isi WA yang dikirim sahabat dan senior saya, Akmal Nasery Basral. Isinya, artikel berjudul 'Ke Gontor Apa yang Kau Cari?: Penganiayaan Berbuah Kematian di Perkajum'.

Saya baca kata per kata, alenia per alenia, mengenai kronologis meninggalnya AM, santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur asal Palembang berusia 17 tahun. Bang Akmal menulis begini :

Kisah ini bermula dari perkajum (perkemahan Kamis dan Jumat) santri Ponpes Gontor 1, Ponorogo, Jawa Timur, pada 18-19 Agustus 2022.

Albar Mahdi yang berusia 17 tahun --biasa dipanggil Aat-- ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Dia santri aktif dan berprestasi. Saat pertama datang dari Palembang mendapat tempat sebagai santri ponpes Gontor 4, Banyuwangi. Kecerdasannya membuat para guru merekomendasikan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Rusdi-Siti Soimah itu untuk menimba ilmu di Gontor 1.

Tiga hari usai Perkajum, sekitar pukul 10.20 WIB (Senin, 22/8/2022), Soimah menerima telpon dari Gontor yang mengabarkan putranya mengembuskan napas terakhir pukul 06.45 WIB. Penyebabnya? Terjatuh akibat kelelahan sebagai ketua pelaksana perkajum. Soimah terkejut mengapa butuh waktu hampir empat jam untuk menyampaikan kabar duka, sementara data orang tua santri lengkap di ponpes?

Selasa siang jenazah Aat tiba di Palembang. Seorang ustaz dari Gontor yang menyerahkan jenazah kepada keluarga dengan mengatakan penyebab kematian Aat akibat kelelahan. Anak ini 'mati syahid'.

Namun keluarga curiga melihat kain kafan pembungkus jenazah yang di beberapa bagian berwarna merah tersebab rembesan darah. Soimah sebagai ketua arisan perkumpulan orang tua santri Gontor di Palembang --beranggota 20-an orang-- juga mendengar info berbeda dari orang tua santri lainnya mengenai penyebab kematian anaknya.

Maka perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai wartawati media Suara Nusantara (koransn.com) itu meminta ustaz pengantar jenazah Aat tetap di rumah mereka, sabar menunggu kedatangan dokter yang akan dihubungi untuk melakukan forensik.

Strategi ini berhasil. Sang ustaz pun mengubah keterangannya: Aat meninggal dunia akibat penganiayaan yang terjadi di Perkajum. Namun dia tidak tahu kejadian rincinya.

Sampai akhir tulisan saya baca artikel goresan sosiolog yang juga penulis antologi cerpen Putik Safron di Sayap Izrail (Republika Penerbit, 2020) itu. Lalu, ingatan saya melesat ke sebuah kartu kecil dari karton warna kuning yang dilaminating.

Itulah kartu capel (calon pelajar) saya saat mengikuti tes masuk Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur tahun 1985 lalu. Kartu capel ini telah saya simpan di dompet saya selama 37 tahun. Setiap gonta ganti dompet, kartu capel Gontor ini pun ikut 'hijrah' meninggalkan dompet lama yang telah lusuh. Sampai saat ini. Saat peristiwa pilu syahidnya AM usai perkajum.

Saya masih ingat, sebelum mengikuti tes masuk Gontor di bulan Syawal 1405 Hijriah itu, saya juga mengikuti program pesantren Ramadhan di tahun yang sama, 1985. Selama sebulan saya beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari di Gontor, lengkap dengan disiplinnya yang waktu itu masih semi militer.

Usia saya saat itu 13 tahun, baru lulus Sekolah Dasar Negeri 47 Wonokusumo Surabaya Jawa Timur. Bahkan, saya sampai tidak mengikuti acara perpisahan di sekolah dasar, karena ibu saya Liliek Chuzinah, waktu itu segera 'mengirim' saya ke pesantren Gontor Ponorogo.

Saya sengaja memilih diksi 'mengirim', karena memang keberangkatan saya ke Gontor tidak diantar oleh ibu atau abah saya. Tetapi dititipkan kepada paman dari pihak ibu yang anaknya saat itu duduk di kelas V Pesantren Gontor. Kami naik bus sampai Madiun, terus ganti mobil lebih kecil, colt. Sampai Gontor selepas Isya'.

Saya pun didaftarkan menjadi santri mukim Ramadhan 1405 H. Saya ditempatkan di RIEM (Rayon Indonesia Merdeka), kamar-kamar para santri yang letaknya tidak jauh dari dapur umum. Malam itu, saya mulai mencicipi menu pertama makan malam khas Gontor, di dapur umum. Sudah mulai sepi, karena para santri lain sudah selesai makan malam. Saya masih ingat, menunya malam itu, mie goreng.

Karena lapar setelah perjalanan dari Surabaya, lahap saya menghabiskan mie goreng. Tapi, begitu saya melihat bagaimana 'bapak dapur' dan 'ibu dapur' memasak, menggunakan sekrop bangunan, mie yang sudah 'tenang' dalam perut saya pun berontak, keluar semua! Dan saat berada di tempat cucian piring, saya muntah.

Setelah itu, saya pun larut dalam keseharian kehidupan Gontor. Mulai bangun pagi sebelum sahur, diiringi dengan bunyi sirine khas dari masjid, lalu sholat subuh berjamaah, belajar membaca al Quran sampai olah raga sore. Semuanya kegiatan itu diatur oleh suara bel besar alias jaros. Jaros inilah yang mengatur semua ritme kegiatan ribuan santri. Bergerak serentak bersama, dari satu titik ke titik lain. Berganti ganti kegiatan. Bak orkrestra yang mengatur gerak aktivitas ribuan santri dikendalikan oleh jaros.

Saat itu, saya masih melihat ada santri Gontor yang berasal dari Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan beberapa negara lain. Saya sangat kagum dengan santri dari Malaysia dan Sumatera. Karena mereka jago jago dalam menendang bola takraw. Apalagi, di Gontor itulah kali pertama saya melihat permainan takraw. Tendangan salto mereka, keren!

Tempat favorit saya selama menjadi santri Ramadhan di Gontor adalah anak anak tangga menara masjid Gontor. Karena di anak anak tangga itulah saya bisa tidur tiduran sambil menunggu bedug magrib. Atau, di pagi hari, seusai sholat subuh, saat ngantuk berat, di sanalah tempat favorit saya, menara. Menara yang sama yang ditulis oleh alumni Gontor, Ahmad Fuadi dalam novelnya, Negeri 5 Menara.

Menjalani puasa Ramadhan di Gontor itu melelahkan, tapi banyak sekali bekal yang saya bawa dalam menjalani hidup ini. Mulai dari disiplin yang tinggi, sampai dengan kehatian hatian dalam hidup. Semuanya itu tertuang dalam Panca Jiwa atau lima nilai yang mendasari kehidupan Pondok Modern Gontor. Yaitu :

1. Keikhlasan

Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik.

Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapan pun.

2. Kesederhanaan

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.

Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.

3. Berdikari

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain .

4. Ukhuwwah Islamiah

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah Islamiah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat.

5. Jiwa Bebas

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan.

Menjelang hari raya Idul Fitri, saya pulang ke Surabaya. Lalu pada minggu pertama bulan Syawal 1405 H, saya kembali ke Gontor lagi untuk tes masuk. Bulan Syawal tahun 1985 ini adalah tahun pertama secara resmi Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo dipimpin oleh Trimurti generasi kedua. Yaitu, KH. Hasan Abdullah Sahal (putra KH. Ahmad Sahal). Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH. Imam Zarkasy) dan KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Karena pada tanggal 30 April 1985, satu-satunya anggota Trimurti generasi pertama yang masih tersisa, KH. Imam Zarkasyi, wafat di Madiun Jawa Timur. Trimurti Pertama Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo adalah KH. Imam Zarkasyi, KH. Ahmad Sahal dan KH. Zainuddin Fananie.

Dan, sebelum pengumuman kelulusan para capel Gontor di tahun 1985 itulah, diumumkan Trimurti Kedua. Tempatnya waktu itu di depan aula Gontor seberang masjid. Ada ribuan capel dari seluruh Indonesia, juga negara tetangga. Sayang, waktu itu nama saya tidak termasuk dalam daftar capel yang dinyatakan lulus.

Ada rasa kecewa. Tapi abah saya, Syukroni Asyhad menguatkan semangat saya untuk tidak patah arang. Masih ada pondok pondok alumni Gontor yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Saya masih bisa mencari pendidikan dan pengajaran di sana. Saya memilih nyantri di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Madura Jawa Timur. Sama dengan tujuan saya datang ke Gontor, mencari pendidikan dan pengajaran!

Saat itu, pesantren Al Amien ini juga dipimpin oleh Trimurti generasi pertama. Tiga bersaudara putra KH. Ahmad Djauhari itu semuanya lulusan Pesantren Gontor Ponorogo. Yaitu, KH. Tijani Jauhari, KH. Idris Jauhari dan KH. Makhtum Jauhari. Bahkan, KH. Tijani Jauhari malah beruntung menjadi menantu dari KH. Imam Zarkasyi.

Alhamdulillah, saya berhasil menyelesaikan pendidikan di pesantren ini, tepat waktu, enam tahun, pada 1991 sebagai alumni angkatan ke-15. Lalu, dilanjutkan dengan program pengabdian salama satu tahun di Pondok Pesantren Al Irsyad Bondowoso Jawa Timur.

Terbukti, pendidikan disiplin yang saya jalani selama bulan Ramadhan 1405 H di Gontor memberikan kekuatan untuk menjalani pola hidup semi militer di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Madura, saat itu. Kini, saya mendengar pola pendidikan di almamater saya itu sudah menyesuaikan dengan tuntutan zaman saat ini. Syukurlah.

Maka, melalui tulisan ini, BATAMTODAY.COM menyampikan turut berduka cita kepada sahabat Soimah, wartawati Suara Nusantara (koransn.com) atas wafatnya putra kebanggannya, AM. Semoga Allah SWT memberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadai ujian ini. Aamiin yra.*