Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Catatan Makcomblang
Oleh : Opini
Senin | 29-08-2022 | 08:24 WIB
A-MAK-COMBLANG_jpg2.jpg Honda-Batam
Rombongan Everyday Mandarin. (Foto: Ist)

Oleh Dahlan Iskan

ANDA sudah kenal orang ini. Di kolom komentator Disway ia selalu menggunakan nama ini: Everyday Mandarin.

Setiap saya menulis soal Taiwan, Everyday Mandarin pasti berkomentar. Sampai suatu saat ia menulis: saya sudah membeli tiket ke Taiwan. "Kalau boleh saya akan melaporkan perjalanan saya ke Taiwan," tulisnya.

Saya pun minta tolong admin. Agar dilacak siapa Everyday itu. Ternyata ia alumnus Taiwan. Lalu punya bisnis terkait Taiwan: mengurus siapa pun yang ingin belajar di Taiwan.

Nama asli Everyday adalah Alfonso Indra Wijaya. Ia punya pekerjaan lain yang tidak kalah larisnya: menjadi makcomblang. Orang Taiwan yang ingin mencari istri di Indonesia bisa lewat dirinya.

Sudah lebih 200 pasang berhasil ia perjodohkan. Salah satu pekerjaan beratnya: meyakinkan mertua. Baik yang di Indonesia maupun yang di Taiwan.

Sudah 2,5 tahun Everyday tidak ke Taiwan. Pandemi menjadi penghalangnya. Maka ketika Taiwan membuka diri lagi, Everyday merasa hidup lagi.

Ini, seperti yang ia janjikan, adalah laporannya dari Taiwan:

***

Para penumpang, kita telah mendarat di Taiwan Taoyuan International Airport. Begitu pengumuman dari pramugari maskapai China Airlines mengumumkan.

Senang dan lega. Senang karena butuh 2,5 tahun untuk bisa tiba kembali di Taiwan. Padahal jaraknya cuma 4,5 jam naik pesawat. Pandemi menghentikan banyak hal. Lega karena tak perlu tes PCR lagi untuk ke Taiwan. Peraturan baru ini berlaku sejak 15 Agustus 2022 lalu.

Hari sudah malam. Pukul 21.30 waktu setempat. Pesawat penuh dengan penumpang. Pebisnis, pelajar, pekerja migran, dan kunjungan keluarga. Tumplek jadi satu. Belum ada turis. Belum diizinkan.

Tak ada lagi jaga jarak di kursi pesawat. Semua sudah tak sabar ingin segera keluar pesawat. Suasana di dalam pesawat masih persis seperti sebelum 2,5 tahun lalu. Bahkan kita masih disuguhi nasi. Bedanya, hanya pramugari memakai pakaian pelindung tambahan. Mereka dan kita semua masih memakai masker.

Saat antre keluar pesawat, saya sempat mengobrol dengan 2 orang pramugari. Mereka pun meladeni obrolan. Tanpa ragu. Tanpa khawatir tertular virus. Dan saya baru tahu: ternyata para pramugari itu belum keluar dari pesawat sejak pagi. Sejak berangkat dari Taiwan ke Jakarta.

Pesawat itu berangkat dari Taiwan Taoyuan International Airport (boleh disebut Taipei) di pagi hari. Tiba di Jakarta sore. Selama di Jakarta semua awak tidak keluar dari pesawat.

Sorenya langsung bertugas kembali melayani penumpang dari Jakarta ke Taipei. Berarti seharian penuh, 14 jam, mereka tinggal di pesawat. Letih, sudah pasti. Tapi tetap ramah dan senyum. Kelihatan dari matanya. Xie xie, xiao jie.

Begitu di ujung garbarata, rombongan dari Everyday Mandarin, para mahasiswa, langsung disergap berbagai prosedur keimigrasian dan kesehatan.

Semua orang yang tiba dari luar Taiwan masih wajib mengikuti aturan masa karantina: 3 hari ditambah 4 hari.

Artinya 3 hari pertama benar-benar diisolasi. Tidak boleh keluar kamar karantina. Dan 4 hari berikutnya sudah agak longgar tapi tidak boleh ke tempat keramaian.

Di hari ke-4, pagi hari, wajib tes antigen. Dilakukan sendiri. Itu jika Anda ingin keluar kamar. Dua perangkat tes antigen diberikan gratis saat di bandara.

Setelah penumpang melewati petugas imigrasi kedatangan, visa dicap. Lolos. Artinya 100 persen boleh masuk ke Taiwan. Tinggal ambil bagasi.

Memang, setelah ambil bagasi itu masih harus tes PCR. Tapi tidak pakai colok hidung. Tes PCR-nya beda. Namanya PCR Saliva. Hanya dengan air liur. Kita cukup meludah --bisa dilakukan semua orang dewasa dan anak-anak yang sehat-- di wadah plastik kecil.

Anda bisa keluar dari bandara tanpa menunggu hasil tes PCR itu. Itu hanya untuk catatan petugas. Toh kalau hasilnya positif petugas sudah tahu alamat dan nomor telepon Anda.

Tes PCR selesai. Anda bisa langsung antre taksi. Antrenya rapi. Ada juga anggota rombongan yang antre mencong-mencong khas Indonesia. Mereka ditegur petugas bandara.

Untuk naik taksi maksimal 2 orang per taxi. Boleh 3 orang jika ada anak di bawah umur. Kursi sebelah sopir taksi dilarang diduduki. Jaga jarak, alasannya. Ternyata beda dengan aturan di pesawat.

Taksi meluncur hingga tiba di Taipei. Ke apartemen keluarga saya. Persis di tengah kota Taipei. Sepelemparan batu dari stasiun MRT Shandao Temple. Bahkan saya bisa melihat atap stasiunnya dari balkon apartemen.

Rombongan pelajar yang saya bawa wajib tinggal di hotel karantina. Hotel yang harus terdaftar di pemerintah. Pelajar yang tiba di Taiwan tidak boleh tinggal di rumah keluarga atau teman.

Karantina total ini selama 3 hari. Untungnya saya tetap bisa bekerja, WFA (Work from Apartment, Anywhere).

Tiap pagi kita ditelepon oleh Pusat Komando Epidemi Taiwan (CECC). Itu telepon mesin. Bunyinya 'Tekan 1 jika Anda sehat. Tekan 2 jika kurang sehat'.

Selama karantina kita harus lapor keadaan dan suhu tubuh. Setiap hari.

Selain ditelepon, juga bisa via SMS. Atau juga bisa lapor via LINE.

Lega rasanya. Karena besok mulai masuk hari ke-4 masa karantina. Besok saya mau keluar kamar. Tentu tidak boleh ke keramaian atau saya akan didenda puluhan juta rupiah.

Salam,

Dari Taipei, Taiwan.*

Penulis adalah wartawan senior